4.5/5
Action
Adventure
Based on Book
Blockbuster
Box Office
Fantasy
Franchise
Hollywood
Humanity
Oscar 2018
Pop-Corn Movie
Reboot
Remake
SciFi
sequel
Summer Movie
The Jose Flash Review
War
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
War for the Planet of the Apes
Remake atau reboot sudah jadi hal yang lumrah
di Hollywood. Namun apa yang dilakukan Fox untuk Rise of the Planet of the Apes (RotPotA) ini tergolong unik. Meski
memegang hak atas novel karya penulis Perancis, Pierre Boulle, yang diterbitkan
pertama kali tahun 1963, dan pernah diangkat ke layar lebar sebanyak lima seri
sejak tahun 1968, dan di-remake oleh Tim Burton pada 2001, bukan ide Fox untuk
kembali me-remake-nya. Adalah prakarsa pasangan suami-istri penulis naskah yang
pernah menyusun naskah The Relic,
Rick Jaffa dan Amanda Silver, yang beride ketika mengumpulkan berbagai fakta
tentang simpanse. Fox kemudian memberikan lampu hijau untuk memproduksinya
dengan menunjuk Mark Bomback untuk membantu memodifikasi naskah tersebut,
terutama memasukkan berbagai tribute dari materi aslinya. Kesuksesan RotPotA,
baik secara komersial (mengumpulkan US$ 481.8 juta di seluruh dunia dengan budget
‘hanya’ US$ 93 juta) maupun resepsi kritikus, produksi sekuel Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA)
segera terlaksana dengan keuntungan yang ternyata lebih besar lagi (US$ 710.6
juta di seluruh dunia dari budget US$ 235 juta).
Sampailah Fox ke seri ketiga. Karena
statusnya yang bukan murni remake maupun reboot, tim punya kebebasan penuh
ingin membawa pengembangan kisah ke mana. Sutradara RotPotA, Matt Reeves,
kembali menjadi ‘komandan’ sekaligus menulis naskahnya dengan bantuan Mark
Bomback yang memang sudah terlibat dalam penyusunan naskah sejak film pertama.
Jika RotPotA banyak mengambil referensi dari Conquest of the Planet of the Apes (installment
ke-empat dari versi pertama), maka installment ketiga yang diberi tajuk War for the Planet of the Apes (WftPotA)
ini memilih untuk mengambil referensi dari Battle
of the Planet of the Apes, installment kelima dari versi pertama yang
sekaligus menjadi pamungkasnya. Apakah ini artinya WftPotA akan menjadi seri
terakhir dari versi ketiga? Well, ada baiknya kita melihat dulu apa yang
disuguhkan di WftPotA ini.
Setelah militer AS memburu koloni para kaum
kera yang terus berkembang, baik secara jumlah maupun intelijensia, kaum kera
yang dipimpin oleh simpanse cerdas bernama Caesar, memilih untuk menetap di sebuah hutan tersembunyi.
Kedamaian hidup mereka terusik oleh serangan tim pasukan yang berkode
Alpha-Omega. Sejumlah besar kaum kera ditangkap, termasuk anak bungsu Caesar,
Cornelius. Caesar pun berniat mencari markas pasukan yang juga menjadi lokasi
penyekapan kaumnya, dengan didampingi orangutan bijak bernama Maurice, seekor
gorila bernama Luca, dan Rocket, simpanse yang dipercaya menjadi letnan Caesar.
Perjalanan mempertemukan mereka dengan
seorang gadis anak manusia bisu yang akhirnya mereka bawa serta karena
belas-kasihan, dan simpanse yang juga bisa bicara, Bad Ape. Hingga akhirnya
berhadapan langsung dengan Sang Kolonel dari Pasukan Alpha-Omega. Dibakar
dendam amarah, Caesar dihadapkan pada pergulatan batin antara mengikuti insting
asli binatangnya atau menjadi kera yang lebih beradab setelah perkembangan yang
ia alami selama ini.
Melanjutkan perkembangan kaum kera yang
semakin cerdas dan beradab setelah terinfeksi virus Simian, WftPotA kembali
mengangkat pergulatan batin terutama dari sosok sang pemimpin, Caesar. Sebagai
spesies simpanse, tentu masih ada insting binatang buas yang tersembunyi. Namun
dengan perkembangan kecerdasan yang terjadi, ia punya pilihan untuk mengambil
keputusan sesuai dengan perkembangan dirinya, di balik dendam atas apa yang
dilakukan manusia terhadap keluarga dan kaumnya. Ditambah lagi nasehat dari
Maurice yang selalu mengingatkannya untuk tidak jatuh menjadi just another
Koba.
Konsep utama tersebut kemudian dipadukan
dengan plot pencarian dan strategi pembebasan yang sangat terasa sekali
mengambil referensi terutama dari kisah Nabi Musa dan Ben-Hur. Bahasa isyarat
kera dengan subtitle Bahasa Inggris (dan tentu juga Bahasa Indonesia untuk
teritori Indonesia) membuat pengalaman mengikuti perkembangan plot menjadi
lebih menarik. Ada kalanya memang penyusunan adegan terasa seperti
fragmen-fragmen terpisah dengan koherensi antar adegan yang sedikit kurang
halus, tapi dengan sedikit kesabaran sebenarnya terlalui dengan tidak begitu
terasa di balik durasinya yang mencapai 140 menit. Apalagi kemudian pecah
perang yang disajikan dengan tingkat intensitas yang tinggi dan konklusi yang
glorious berkat kepiawaian camera work dan framing dari sinematografi Michael
Seresin, sharp editing dari William Hoy dan Stan Salfas, serta salah satu yang
terpenting, score music dari Michael Giacchino yang tak hanya membawa kembali
feel film-film bertema sejenis di era 60-70’an, tapi juga menaikkan level taste
majestic dan kemegahan sinematik. One of the best musical score in 2017, atau
bahkan selama beberapa tahun terakhir.
Tak hanya konsep ‘evolusi’ kaum kera dan plot
pembebasan, DotPotA juga tak lupa membubuhkan perkembangan (atau sebenarnya
lebih tepat disebut sebagai revealing) penting dari premise besar keseluruhan
trilogi versi ketiga ini. Dikemas tidak secara terang-terangan sehingga cukup
menimbulkan keterkejutan ketika dimunculkan. Sebuah revealing yang sebenarnya
kembali mempertanyakan masa depan manusia (sebagai spesies) yang tersisa
setelah semua yang terjadi, seiring dengan kelanjutan perkembangan kaum kera.
Apakah akan semakin mencapai sisi ‘kemanusiaan’-nya atau masih berada di
tengah-tengah antara manusia dan kera.
Kualitas akting Andy Serkis dalam
merepresentasikan sosok Caesar mengalami ujian yang semakin meningkat di sini.
Di luar ekspektasi, di WftPotA Serkis berhasil memberikan performa terbaiknya
sepanjang karir sebagai aktor motion capture selama ini. Lihat saja bagaimana
ia bereaksi di momen-momen paling emosional yang jumlahnya sangat banyak di
sini. Dengan kharisma yang terus meningkat, tampaknya Serkis siap untuk menapak
level karir akting yang lebih tinggi. Woody Harrelson mengimbangi performa
Serkis secara head-to-head lewat karakter Sang Kolonel yang tampak beringas dan
tanpa ampun.
Di lini pemeran pendukung pun, baik dari sudut
manusia maupun kaum kera tampil sama baiknya. Terutama Karin Konoval yang
terasa sekali kebijaksanaannya di balik sosok Maurice, Sara Canning sebagai
Lake, dan si pencuri perhatian terbesar, Steve Zahn (Bad Ape) yang juga
berhasil menjalankan fungsinya sebagai comedic character. Terakhir, tentu tak
boleh mengabaikan penampilan si cilik Amiah Miller sebagai Nova yang cukup
jelas mengekspresikan emosi dan komunikasinya tanpa dialog.
Kemegahan visual dan musik pengiring WftPotA
masih diperkuat lagi lewat sound design serta sound mixing. Dengan dukungan
Dolby Atmos, sound design memberikan detail yang luar biasa. Mulai ambience
hutan yang terdengar begitu kaya dan detail sehingga seolah membawa penonton
benar-benar di tengah hutan dikelilingi oleh kaum kera buas, ditambah suara
gemericik air dari berbagai kanal yang memberikan feel kedalaman dimensi ruang,
hingga suara ledakan dan tembakan yang terdengar powerful. One of the best use
of Dolby Atmos facility so far.
Dengan kombinasi berbagai konsep dan elemen,
WotPotA menjadi sebuah konklusi yang bold tentang sisi kemanusiaan, baik dari
kaum manusia sendiri maupun dari kaum kera yang berkembang menjadi semakin
‘manusia’. Pertanyaan ‘what it takes to reach humanity?’ seolah dilontarkan
sekaligus dijawab terutama lewat karakter sang pemimpin, Caesar. Namun masih
ada pertanyaan tentang bagaimana nasib sisa manusia yang selamat tapi kondisi
keceradasannya kian menurun dan bagaimana ia hidup berdampingan dengan kaum
kera yang justru berkembang sebaliknya. Pertanyaan yang akan menimbulkan rasa
penasaran penonton jika kelak dikembangkan menjadi sekuel berikutnya. Apalagi
seri selanjutnya kelak masih belum punya pijakan referensi yang benar-benar
pasti dari versi-versi sebelumnya. Semoga saja menjadi sesuatu yang lebih menarik
lagi dengan mengulik konsep-konsep yang lebih thoughtful.
Lihat data film ini di IMDb.
The 90th Academy Awards Nominee for:
- Best Achievement in Visual Effects