The Jose Flash Review
Drone

Masih ingat tahun 2016 lalu ada film thriller war, Eye in the Sky yang mengedepankan kisah drone pengawas yang memata-matai sepak terjang teroris? Bukan rahasia lagi memang bahwa badan-badan intelijen dunia sudah memanfaatkan teknologi drone untuk memata-matai bahkan menyerang target. Tahun 2017 ini Kanada tak mau kalah mengangkat tema serupa meski skalanya bisa dikatakan jauh lebih kecil. Dari sutradara Jason Bourque, sutradara Kanada yang memenangkan beberapa penghargaan film internasional lewat Black Fly 2014 silam, Drone meletakkan aktor The Lord of the Rings, Sean Bean di lini terdepan, didukung Patrick Sabongui (Kapten David Singh di serial The Flash versi 2014 dan baru saja kita lihat di remake Power Rangers sebagai ayah Trini), Mary McCormack (serial The West Wing), serta bintang muda Maxwell Haynes. Diputar pertama kali di ajang Vancouver Film Festival April lalu, penonton Indonesia sudah bisa menyaksikannya di layar lebar oleh distributor Indonesia Entertainment Group.

Neil sedang sibuk mengurus persiapan pemakaman sang ayah, terutama menulis naskah pidato di upacara pemakaman kelak. Tiba-tiba ia kedatangan seorang asing yang mengaku bernama Imir Shaw dan berniat membeli kapal pesiar peninggalan dari sang ayah yang sudah dijual sejak berbulan-bulan sebelumnya. Ketika berniat merayakan transaksi bersama istrinya, Ellen, dan sang putra semata wayang, Shane, terbongkarlah identitas dan niatan Imir mendatangi mereka. Begitu juga rahasia yang Neil sembunyikan selama ini sebagai kontraktor drone yang bertugas membumihanguskan target perang atas komandi CIA. Tak hanya Neil, rupanya Ellen dan Shane juga punya rahasia yang terbongkar di momen yang paling krusial, sebelum Imir bertindak nekad.
Konsep cerita dan storytelling Drone sebenarnya sederhana. Jauh lebih sederhana daripada Eye in the Sky. Praktis hanya berpusat pada sosok karakter utama, Neil, hubungannya dengan istri dan anaknya, dan bagaimana impact-nya ketika muncul ancaman dari luar yang sebenarnya merupakan tanggung jawab Neil atas profesinya selama ini. Sederhana, tapi berpotensi menjadi drama thriller yang mencekam dan punya sisi thoughtful yang powerful, terutama soal hubungan sebab-akibat. Namun Bourque rupanya ingin menempuh penceritaan yang tak sesederhana itu.
Film dibuka dengan kejadian peledakan di sebuah kawasan pemukiman di Pakistan. Sayangnya alih-alih menyuguhkan setup yang tepat untuk memperjelas identitas karakter Imir Shaw sekaligus sebagai character investment untuk menanamkan simpati yang cukup kepada karakternya, ia justru membidik keluarga lain yang tak ada hubungannya dengan Imir. Tentu dampaknya, ini menjadi setup pembuka sekaligus introduksi yang membingungkan.
Kebingungan masih terus dilanjutkan ketika point of view berganti ke sosok Neil dan keluarganya. Sama sekali tak ada detail penjelasan pekerjaan rahasia Neil, termasuk dilematis moral yang biasanya terjadi pada karakter sejenis. Penonton hanya disuguhi bahwa Neil sekedar meledakkan target tanpa penjelasan lebih lanjut. Adegan kemudian berpindah lagi ke sosok pria berwajah Timur Tengah dengan gelagat mencurigakan tanpa jelas ia siapa dan berniat melakukan apa.
Identitasnya baru terbaca ketika dipertemukan dengan Neil dan ketegangan baru terbangun secara perlahan seiring dengan arah konversasi yang terjadi. Sedikit mengingatkan saya akan apa yang ditampilkan Aftermath, tapi dengan intensitas yang dibangun sedikit lebih baik. Itu pun penonton hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi lewat kilasan-kilasan sosok seorang ibu dan anak gadisnya yang sama-sama berwajah Timur Tengah yang tidak menjadi fokus ketika adegan peledakan di pembuka film terjadi. Ketegangan ini untungnya punya klimaks yang tertata baik sehingga masih bisa terasakan oleh penonton, dengan revealing tujuan utama yang tak kelewat cliché meski juga bukan sesuatu yang mengejutkan. Sementara elemen rahasia dari Ellen dan Shane agaknya kurang punya peran begitu penting ataupun punya korelasi yang cukup kuat terhadap plot utama.
Dipercaya mengisi peran sentral, Sean Bean tampil dengan kharisma lebih dari cukup sebagai Neil Wistin. Baik sebagai agen CIA (well, lebih tepatnya kontraktor CIA), maupun sosok suami dan ayah. Patrick Sabongui pun mengimbangi performa Bean dengan kharisma yang cukup memadai sebagai Imir Shaw, meski belum sekuat aktor-aktor watak yang lebih berpengalaman lainnya. Sementara Mary McCormack sebagai Ellen Wistin dan Maxwell Haynes sebagai Shane Wistin sekedar tampil layak sesuai porsi peran masing-masing. Hanya saja Haynes tampak sedikit berlebihan di satu momen paling emosionalnya.
Teknis Drone agaknya tergolong standard untuk skala produksinya. Setidaknya sinematografi Graham dan Nelson Talbot masih mampu menghantarkan visualisasi adegan sesuai apa yang ingin disampaikan dan sesekali mencoba menghadirkan shot-shot yang terlihat ‘perfect shot’ dengan minim camera work. Editing Asim Nuraney terasa tak memberi kontribusi lebih terutama dalam pembangunan setup dan introduksi di setengah jam pertama. Namun setidaknya masih cukup berfungsi dalam menjaga intensitas ketika membangun momen drama-thriller-nya. Terakhir, score music Michael Neilson masih terdengar cukup suportif terhadap nuansa film yang ingin dicapai. Masih ada taste ‘blockbuster’ kendati tergolong generik.
Drone sebenarnya berpotensi menjadi thriller drama bertema tanggung jawab konsekuensi dari aksi espionage yang thoughtful dan bold. Namun penyampaian setup dan introduksi yang masih jauh dari kata mulus serta kurang tergalinya penulisan karakter maupun naskah, Drone hanya menjadi just another thriller drama. Punya daya cekam level medium yang cukup terbangun hingga klimaks, tapi hanya sejauh itu saja yang berhasil dilakukannya. Sayang sekali.
Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.