The Jose Flash Review
From a House on Willow Street

Kita di Indonesia mungkin tergolong sangat jarang menikmati sinema Afrika Selatan. Padahal kiprah sinema Afrika Selatan di perpetaan film dunia cukup konsisten. Bahkan pernah ada yang sampai memenangkan Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year, Tsotsi (2005). Di ranah pure hiburan, ada franchise The Gods Must Be Crazy dan Yankee Zulu yang benar-benar menancap dalam ingatan saya. Di era 2000-an, sineas Neill Blomkamp berhasil menembus pasar dunia, berturut-turut lewat District 9 dan Chappie. Tahun ini Feat Pictures mencoba kembali memperkenalkan taste Afrika Selatan lewat film horor bertajuk From a House on Willow Street (FaHoWS). Dari sutradara Alastair Orr (Indigenous dan Expiration) dan naskah yang disusun Alastair bersama rekan di film-film sebelumnya, Catherine Blackman dan Jonathan Jordaan. Menggabungkan tema home invasion dengan exorcism, FaHoWS terdengar menarik untuk disimak.

Hazel, Ade, James, dan Mark merencanakan untuk menginvasi sebuah rumah milik penjual berlian dan menculik sang putri, Katherine. Di luar dugaan rencana berjalan jauh lebih mudah dan mulus meski mereka menemukan tanda-tanda aneh di beberapa sudut rumah. Setelah membawa Katherine ke markas, mereka berniat merekam video permintaan tebusan. Seperti layaknya korban penculikan lain, Katherine sempat memberontak hingga akhirnya menurut juga. Anehnya, orang tua Katherine tidak bisa dihubungi. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan mengecek. Teror pun dimulai, seiring dengan perangai Katherine yang berubah menjadi makin ganas.
Konsep penggabungan tema home invasion dan exorcism memang terdengar sangat menarik dan sejauh yang saya ingat, masih belum ada yang melakukannya. FaHoWS dibuka dengan tema home invasion yang cukup menghentak meski tak sampai semencekam yang dilakukan Don’t Breathe, misalnya. Kemudian ada jeda yang cukup panjang untuk masuk ke konsep exorcism-nya. Diisi dengan suspicion atas apa yang sebenarnya terjadi pada sosok Katherine dan aneka rangkaian jumpscare di sana-sini, perkembangan plot terasa melemah secara signifikan. Keputusan membuat Katherine berhasil dibawa ke markas terlebih dahulu, bukannya langsung menggeber teror di rumah tinggalnya, pun terasa seperti upaya bertele-tele yang sebenarnya tak perlu dilakukan.
Revealing pertautan antara masa lalu Hazel dengan keluarga Katherine sebenarnya cukup menarik. Sayang, lagi-lagi eksekusinya terasa kelewat dibuat-buat (self-recording to reveal, tanpa tahu jelas akan ditujukan ke mana kelak?) dan dengan treatment yang demikian, gagal untuk memberikan impact sekuat sebagaimana mestinya. Rangkaian jumpscare yang sebenarnya terkonsep dengan baik dan jelas, bukan sekedar random jumpscare, juga pada akhirnya hanya menjadi jumpscare ‘hiasan’ tanpa follow up yang terangkai satu sama lain menjadi kesatuan yang solid.  Other than that, setidaknya masih ada beberapa slasher yang cukup memuaskan secara visual meski tak sampai menjadi sesuatu yang memorable untuk jangka waktu lebih lama.
Tanpa dibekali kedalaman karakter yang lebih dan sekedar karakter-karakter generik, para aktor utama berlakon dengan cukup baik sesuai kebutuhan masing-masing. Misalnya Sharni Vinson (Step Up 3D, You’re Next, dan Bait) sebagai Hazel yang tampil cukup solid dalam menyeimbangkan sosok wanita pemberani dengan kerapuhan terselubung. Carlyn Burchell sebagai Katherine pun menunjukkan transformasi karakter dari gadis biasa menjadi buas yang tergolong mulus dan natural. Sementara Gustav Gerdener sebagai James, Zino Ventura sebagai Mark, dan Stevan John Ward sebagai Ade sekedar tampil fairly sesuai porsi peran yang memang tak banyak dan tak ada yang benar-benar menonjol.
Teknis FaHoWS tergolong layak untuk golongan film indie. Sinematografi Brendan Barnes sekedar mampu memvisualisasikan cerita, tanpa varian shot maupun camera work tertentu yang membuatnya menjadi lebih distinctive. Hanya saja saya menyukai pilihan tone warna di banyak adegan yang membuatnya terlihat seperti film Technicolor era 70-80’an. Editing yang dilakukan Orr sendiri pun tak menawarkan taste yang lebih ataupun berbeda terhadap tampilan keseluruhan film. Begitu juga score music Andries Smit yang masih tergolong sangat generik di genrenya.
Bagi pecinta horror, apa yang ditawarkan FaHoWS mungkin masih bisa jadi sajian yang menarik untuk disimak Apalagi sebagai sinema Afrika Selatan yang masih tergolong jarang ada di layar kita meski sebenarnya tak punya taste yang jauh berbeda dengan horror-horror indie asal negara lain. Setidaknya masih bisa berhasil menantang ‘jantung’ lewat rangkaian jumpscare di banyak kesempatan. Asal tidak berharap lebih, FaHoWS masih layak untuk disimak.
Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.