Jersey
[2022]
Lebih dari Sekadar
Sport Drama Biasa
Cricket memang bukan olahraga yang populer di Indonesia. Sebagaimana negara asalnya, Inggris, wajar jika olahraga ini hanya populer di negara-negara bekas penjajahan atau persemakmuran Inggris, seperti Asia Selatan, Australasia, Afrika selatan, dan Hindia Barat. Secara garis besar sebenarnya cricket mirip baseball dengan kunci perbedaan ada pada struktur targetnya, yaitu wicket yang harus dijaga oleh pemukul bola (batter). Sebagai bekas jajahan Inggris, wajar jika India menjadi negara dimana cricket adalah salah satu olahraga yang paling populer. Sinema Hindustani pun sudah sangat sering mengangkat tema cricket ke layar lebar. Beberapa di antaranya yang notable adalah M.S. Dhoni: The Untold Story, Zoya Factor, 83, dan salah satu yang banyak mendapatkan pujian kritikus sekaligus box office yang cukup memuaskan, bahkan dinobatkan sebagai salah satu film Telugu terbaik tahun 2019 adalah Jersey yang disutradarai Gowtam Tinnanuri. Meski banyak pihak yang berspekulasi bahwa film ini diilhami oleh pemain cricket, Raman Lamba, tapi aktor utama, Nani, dan sutradara Gowtam mengklaim bahwa kisah film ini murni sebuah fiksi. Tahun 2022 Jersey dibuat-ulang dalam bahasa Hindi dengan Gowtam masih dipercaya untuk menulis skenarionya sekaligus menyutradarai dan dibintangi oleh Shahid Kapoor (Haider, Upta Punjab, Padmaavat, dan Kabir Singh) serta Mrunal Thakur (Super 30 dan Batla House).
Arjun Talwar (Shahid Kapoor) adalah batter legendaris di era '80an dan hampir tergabung dalam tim nasional India. Namun ia mendadak memutuskan berhenti bermain cricket setelah menikahi pujaan hatinya, Vidya (Mrunal Thakur) dan dikaruniai seorang putra, Ketan (Ronit Kamra). Arjun memilih menjadi PNS. Malang, beberapa tahun kemudian Arjun di-PHK karena dugaan korupsi sampai ia berhasil membuktikan diri tidak bersalah. Semakin putus asa dan melihat rumah tangganya yang semakin dalam kondisi bahaya jika terus begini, Arjun memutuskan untuk mencoba menjadi asisten pelatih cricket hingga ditawari menjadi batter tim Punjabi. Awalnya semua pihak menolak karena usianya yang sudah 36 tahun tapi bakat luar biasanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Kemenangan tim Punjabi sekaligus melambungkan namanya di seluruh penjuru India, bahkan kesempatan untuk masuk tim nasional kembali terbuka. Lagi-lagi Arjun dihadapkan pilihan mimpinya sejak lama yang sudah ada di depan mata atau istrinya yang meminta Arjun memilih pekerjaan yang lebih realistis dan stabil.
Dibandingkan film-film Hindustani bertema cricket, Jersey punya pembeda yang sangat jelas. Ia bukanlah sebuah biopik sehingga lebih mudah untuk mengembangkan plotnya sesuai kebutuhan value yang ingin disampaikan. Beruntung Gowtam menyusun skenario Jersey dengan sangat baik. Topik late bloomer, hubungan ayah-anak, dan rekonsiliasi suami-istri menjadi highlight terbesar yang porsinya serba seimbang dan disusun dengan hubungan sebab-akibat yang realistis dan bergulir natural, tanpa ada yang terasa tumpang-tindih. Penangangan Gowtam juga sangat baik, menjadikan Jersey punya banyak momentum emosional yang berhasil memikat simpati penonton. Tak hanya itu, rupanya ia masih menyimpan twist yang akhirnya menjawab pertanyaan kenapa diberi judul Jersey. Jersey sebagai kado ulang tahun sang putra tak hanya dijadikan salah satu motivasi Arjun kembali bermain cricket. Lebih dari itu, ia juga simbol kehormatan dan warisan semangat untuk tidak pernah putus asa. Sebuah konklusi simbolis yang begitu kuat sebagai penutup dan layak dijadikan judul.
Shahid Kapoor terlihat cukup tahu bagaimana membawakan perannya yang bisa dikatakan agak multi-dimensional. Dengan perubahan emosi yang cukup banyak seiring dengan peristiwa yang menimpanya sekaligus 'menyimpan rahasia besar' yang baru diungkapkan menjelang akhir, Shahid terlihat tidak kesulitan melakoninya. Transisinya natural, tidak meledak-ledak, tetap menjaga keeleganan, sekaligus dengan mudah menyentuh penonton di momen-momen paling emosionalnya. Kepolosan Ronit Kamra ditambah dengan penulisan dialog-dialog yang sederhana tapi powerful tak sulit untuk juga mencuri simpati penonton. Sementara Mrunal Thakur juga mampu membuat karakter Vidya yang terkesan kontra dengan karakter utama tapi punya alasan yang rasional dan tak sampai menjadikannya sosok antagonis.
Meski durasinya mencapai 170 menit dan sebagian besar menggambarkan pertandingan cricket lengkap dengan jargon-jargon khusus di bidangnya, tapi ia mampu menjaga porsi dan pace sehingga tak sedikit pun terasa membosankan atau mengalienisasi penonton yang tak begitu paham permainan cricket. Selain dari itu, lagu-lagu yang dihadirkan cukup catchy dan mengelevasi emosi adegan meski tak sampai jadi memorable untuk jangka waktu lama, seperti Mehram, Maiyya Manu, dan Jind Meriye.
Dengan segala kelebihannya, Jersey sangat layak dijadikan tontonan yang hangat dan menghibur bagi seluruh keluarga. Jika kelewatan di bioskop, nantinya juga bakal tayang di Netflix selaku partner resmi.
Lihat data film ini di IMDb.