3.5/5
Action
Found footage
Gore
Hollywood
Horror
Indie
Investigation
medic
Monster
Mystery
The Jose Flash Review
Thriller
Werewolf
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Wer
Dibandingkan monster
‘seangkatan’-nya, vampire, werewolf masih tergolong jauh lebih jarang disentuh
untuk diangkat ke media film (yang berdiri sendiri, tanpa disandingkan dengan
monster lain seperti vampire). Itupun tak banyak modifikasi elemen cerita. Yang
kita tahu hanyalah seseorang yang bisa berubah menjadi manusia serigala
jadi-jadian buas ketika malam bulan purnama. That’s it. Tak banyak
gimmick-gimmick lain yang ditambahkan di film-film. Maka apa yang dilakukan
William Brent Bell, yang pernah sukses dengan horor berbudget rendah, Stay Alive dan The Devil Inside, serta partner setianya, Matthew Peterman, ini
patut mendapatkan perhatian lebih lewat karya mereka yang juga diproduksi
secara indie, Wer.
Wer bermula dari sebuah kasus pembantaian sekeluarga yang sedang
berkemah di sebuah hutan di Perancis. Meski dari mayat terlihat seperti
diserang oleh binatang buas, polisi menangkap penduduk lokal bernama Talan.
Merasa tak mungkin seorang manusia bisa melakukan serangan ini, Kate tertarik
untuk menjadi pengacara Talan dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan
kasus ini. Investigasi Kate yang dibantu pakar binatang buas yang juga mantan
Kate, Gavin, dan Eric ini ternyata membawa mereka ke fakta yang mengerikan.
Dengan teknik kamera found
footage dari berbagai sumber, Wer
memulai introduksinya dengan cepat dan efektif. Segeralah penonton dibawa ke
investigasi kasus Talan. Namun patut diingat, meski tata kameranya bergaya
found footage, namun narasinya tetap disampaikan seperti film biasa, sehingga
pace dan alurnya tetap nyaman untuk diikuti, sekaligus bikin penasaran. Mungkin
bagi pecinta horor, apalagi tema werewolf, Wer
tidak tergolong punya cerita yang unik. Bahkan mungkin banyak yang bisa
menerka-nerka akan dibawa ke mana Wer
ini hingga ending. Namun yang membuat Wer
menarik adalah memasukkan unsur medis ke dalam fenomena werewolf. Fiktif, seperti halnya virus yang bisa
mengubah manusia menjadi zombie, namun karena (seingat dan setahu saya) belum
pernah ada di film werewolf lain, maka ini jadi menarik. Anyway, it’s not a
virus here. Watch it if you want to know what has caused it.
Penggabungan berbagai genre juga
yang menjadikan Wer tontonan yang
menarik dan cukup mengejutkan. Ketika paruh awal kita diajak untuk mengikuti
perkembangan kasus dengan kemasan thriller investigasi, paruh berikutnya kita
langsung diajak terhenyak dengan action thrillernya yang brutal. Malahan
menurut saya, Wer adalah salah satu
film werewolf yang paling brutal yang pernah dibuat. Beberapa memang terasa
karikatural, namun tetap saja mengerikan, terkadang bikin ikut tersugesti,
namun tentu saja, seru.
Tak sempurna memang. Ada beberapa
part yang membuat ia terasa seperti frame-frame tersendiri yang terpisah.
Terutama sekali menjelang klimaksnya. Namun overall, Wer masih lebih dari layak untuk dinikmati.
Penampilan A.J. Cook, Vik Sahay,
dan Simon Quarterman di lini depan cukup menarik dan pas dengan karakter
masing-masing. Sementara yang paling menarik adalah Brian Scott O’Connor sebagai
sosok Talan yang misterius.
Tak ada yang istimewa maupun
mengganggu di divisi teknis, seperti pada tata kamera dan tata suara. Namun
prop dan makeup patut mendapatkan kredit lebih lewat desain mayat-mayat yang
keadaannya mengenaskan.
Wer mungkin adalah film indie yang kurang terekspose, tapi I have
to admit, it is a very interesting one, with its medical take and of course,
its graphic gore. Bahkan di ensiklopedia werewolf sekalipun, Wer sangat patut diperhitungkan untuk
masuk dan menjadi bahan pembahasan tersendiri.
Lihat data film ini di IMDb.