The Jose Flash Review
Wer

Dibandingkan monster ‘seangkatan’-nya, vampire, werewolf masih tergolong jauh lebih jarang disentuh untuk diangkat ke media film (yang berdiri sendiri, tanpa disandingkan dengan monster lain seperti vampire). Itupun tak banyak modifikasi elemen cerita. Yang kita tahu hanyalah seseorang yang bisa berubah menjadi manusia serigala jadi-jadian buas ketika malam bulan purnama. That’s it. Tak banyak gimmick-gimmick lain yang ditambahkan di film-film. Maka apa yang dilakukan William Brent Bell, yang pernah sukses dengan horor berbudget rendah, Stay Alive dan The Devil Inside, serta partner setianya, Matthew Peterman, ini patut mendapatkan perhatian lebih lewat karya mereka yang juga diproduksi secara indie, Wer.

Wer bermula dari sebuah kasus pembantaian sekeluarga yang sedang berkemah di sebuah hutan di Perancis. Meski dari mayat terlihat seperti diserang oleh binatang buas, polisi menangkap penduduk lokal bernama Talan. Merasa tak mungkin seorang manusia bisa melakukan serangan ini, Kate tertarik untuk menjadi pengacara Talan dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan kasus ini. Investigasi Kate yang dibantu pakar binatang buas yang juga mantan Kate, Gavin, dan Eric ini ternyata membawa mereka ke fakta yang mengerikan.

Dengan teknik kamera found footage dari berbagai sumber, Wer memulai introduksinya dengan cepat dan efektif. Segeralah penonton dibawa ke investigasi kasus Talan. Namun patut diingat, meski tata kameranya bergaya found footage, namun narasinya tetap disampaikan seperti film biasa, sehingga pace dan alurnya tetap nyaman untuk diikuti, sekaligus bikin penasaran. Mungkin bagi pecinta horor, apalagi tema werewolf, Wer tidak tergolong punya cerita yang unik. Bahkan mungkin banyak yang bisa menerka-nerka akan dibawa ke mana Wer ini hingga ending. Namun yang membuat Wer menarik adalah memasukkan unsur medis ke dalam fenomena werewolf.  Fiktif, seperti halnya virus yang bisa mengubah manusia menjadi zombie, namun karena (seingat dan setahu saya) belum pernah ada di film werewolf lain, maka ini jadi menarik. Anyway, it’s not a virus here. Watch it if you want to know what has caused it.

Penggabungan berbagai genre juga yang menjadikan Wer tontonan yang menarik dan cukup mengejutkan. Ketika paruh awal kita diajak untuk mengikuti perkembangan kasus dengan kemasan thriller investigasi, paruh berikutnya kita langsung diajak terhenyak dengan action thrillernya yang brutal. Malahan menurut saya, Wer adalah salah satu film werewolf yang paling brutal yang pernah dibuat. Beberapa memang terasa karikatural, namun tetap saja mengerikan, terkadang bikin ikut tersugesti, namun tentu saja, seru.

Tak sempurna memang. Ada beberapa part yang membuat ia terasa seperti frame-frame tersendiri yang terpisah. Terutama sekali menjelang klimaksnya. Namun overall, Wer masih lebih dari layak untuk dinikmati.

Penampilan A.J. Cook, Vik Sahay, dan Simon Quarterman di lini depan cukup menarik dan pas dengan karakter masing-masing. Sementara yang paling menarik adalah Brian Scott O’Connor sebagai sosok Talan yang misterius.

Tak ada yang istimewa maupun mengganggu di divisi teknis, seperti pada tata kamera dan tata suara. Namun prop dan makeup patut mendapatkan kredit lebih lewat desain mayat-mayat yang keadaannya mengenaskan.

Wer mungkin adalah film indie yang kurang terekspose, tapi I have to admit, it is a very interesting one, with its medical take and of course, its graphic gore. Bahkan di ensiklopedia werewolf sekalipun, Wer sangat patut diperhitungkan untuk masuk dan menjadi bahan pembahasan tersendiri.

Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.