The Jose Flash Review
Terminator Genisys

The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1990) memang jadi titik penting bagi perfilman Hollywood, terutama untuk genre action dan sci-fi. Tak hanya sukses secara komersial, keduanya juga masuk berbagai daftar terbaik sepanjang masa. Namun sayangnya franchise yang satu ini tak membawa banyak keberuntungan bagi production company yang memproduksinya, sehingga haknya harus berkali-kali pindah tangan, begitu juga dengan distributor yang berganti-ganti. Installment ketiga, Terminator 3: Rise of the Machins (2003) mungkin tak punya banyak signifikasi cerita yang berjalan, selain sekedar mengulang premise. Tapi setidaknya ia menampilkan Teriminator wanita, TX, yang diperankan dengan cukup ikonik oleh Kristanna Loken, yang menurut saya menjadikannya cukup memorable. Dilanjutkan installment keempat, Terminator Salvation (2009) yang secara cerita sebenarnya cukup menarik dan punya kontinuiti yang baik dengan kedua seri pertamanya. Sayang, atmosfer post-apocalypse yang gelap melenyapkan ciri khas action thriller ala franchise Terminator sehingga menjadi tak begitu memorable, selain sekedar another post-apocalypse movie. Secara penghasilan, keempatnya sebenarnya masih menghasilkan ratusan juta dolar dan kalau dibandingkan dengan budget masing-masing installment, masih untung. Tapi bongkar-pasang hak, kontroversi review dan di belakang layar, menjadikan franchise Terminator tak berjalan semulus franchise-franchise besar lainnya. Secara storyline, keempatnya sudah mengobrak-abrik timeline sedemikian rupa hingga penonton yang mengikuti pun sudah pasti bingung, apalagi dengan melibatkan time travel. Ini masih belum termasuk serial Sarah Connor Chronicle.

Maka upaya installment kelimanya, Terminator Genisys (TG) masih menjadi sebuah pertaruhan. Di tangan production company baru, Skydance Productions milik Paramount yang pernah sukses dengan franchise Mission: Impossible, TG berusaha untuk meyakinkan penggemar aslinya sekaligus mencoba mengenalkan pada penonton generasi baru, seperti yang juga dilakukan oleh franchise-franchise besar berusia di atas 20 tahun lainnya. Apalagi ada gimmick, TG adalah installment yang mendapatkan restu dari James Cameron, sang kreator, sebagai sekuel yang paling pas untuk The Terminator dan T2.

Berbagai upaya dilakukan, termasuk yang paling utama menghadirkan kembali adegan-adegan dan elemen-elemen dari kedua seri pertamanya. Tujuannya, apalagi kalau bukan membawa nostalgia kepada para penggemar aslinya. Kesemuanya ditampilkan dalam konteks cerita yang masih logis, yaitu membawa Kyle Reese ke masa lalu ketika pertama kali T-800 model 101 dikirim untuk menghabisi Sarah Connor sebelum mengandung John Connor. Muncul pula T-1000 meski kini harus berwajah Korea. Bedanya, kali ini TG mengobrak-abrik kejadian demi kejadian dari kedua seri pertama itu, dengan dalih mereset timeline dan memperbaiki banyak kesalahan yang pernah dibuat di installment-installment sebelumnya. Sedikit mengingatkan kita dengan upaya yang dilakukan oleh franchise X-Men lewat Days of Future Past. Namun TG rupanya gagal melakukan upaya yang sama. Penyebabnya cukup banyak. Mulai motivasai yang sudah usang karena diulang-ulang di setiap installment, karakteristik keseluruhan karakter utama yang berubah drastis, plot yang seperti berusaha twist di mana-mana tapi justru jatuhnya jadi berlebihan dan bikin capek untuk diikuti. Well come on, menalar logika secara timeline di setiap installment saja sudah bikin pusing dan capek, penonton (terutama saya) masih harus diajak untuk menerima kenyataan-kenyataan yang pahit dalam plot cerita. Serius, saya merasa kelelahan dan mulai muak untuk mengikuti plot ceritanya.

Jika Anda bukan termasuk penggemar slash penonton kedua installment pertamanya, dan memilih untuk mengacuhkan pusaran plotnya serta membiarkan plotnya mengalir begitu saja, tenang saja. Setidaknya Anda masih bisa dihibur dengan gelaran adegan-adegan aksi yang spektakuler, khas summer blockbuster. Namun jika Anda mengharapkan adegan aksi dengan thrill ala T2, maka Anda juga akan kecewa. Alih-alih menghadirkan thrill intensitas tinggi seperti T2, TG memilih untuk mengubah semua atmosfernya menjadi fun. Sarah Connor yang aslinya depresif dan tangguh, pun berubah menjadi fun badass, Arnie (baca: Arnold Schwarzenegger) yang biasanya selalu tampil garang, kali ini juga harus berubah drastis jadi orang tua yang tampak kelelahan, berusaha senyum, meski masih belum kehilangan kharisma seorang action hero. As for me, saya sudah terlalu lelah untuk bisa menikmati adegan-adegan aksinya.

Dengan ‘kacamata baru’ ketika menonton TG, terlepas dari perubahan karakteristik karakter yang diperankannya, Emilia Clarke sebenarnya tampil cukup menarik perhatian sebagai seorang kickass female lead. Apalagi secara fisik punya kemiripan dengan Linda Hamilton. Jai Courtney mungkin tidak sekharismatik Michael Biehn sebagai Kyle Reese, namun setidaknya ia mampu membuat penonton bersimpati pada karakternya. Sementara Jason Clarke meski tak tampil buruk, namun perubahan drastis karakter John Connor yang diperankannya membuat saya kurang menyukai penampilannya. Di jajaran pemeran pendukung, J.K. Simmons mampu mencuri perhatian meski screen presence-nya tak banyak. Lee Byung-hun terasa aneh memerankan T-100 yang dulunya diperankan oleh Robert Patrick, tapi masih acceptable.

Tak usah diragukan untuk visual effect yang semakin tampak real meski tak ada yang benar-benar baru. Sementara divisi sound cukup memberikan energi dalam membangun adegan-adegan aksinya. Fasilitas Dolby Atmos beberapa kali terasa dimanfaatkan dengan cukup, namun juga tak terlalu spektakuler maupun hidup.

Shortly, dengan treatment ala another summer blockbuster action movie, TG mungkin lebih ditujukan untuk penonton awam maupun yang tidak begitu familiar dengan installment-installment sebelumnya. Fun dan eye-candy. Tentu penonton ataupun penggemar kedua installment pertama yang setidaknya sekedar mengharapkan atmosfer yang serupa, harus keluar dari teater dengan kecewa.

Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.