The Jose Flash Review
Last Knights

47 Ronin adalah cerita legenda asal Jepang tentang para ronin, ksatria samurai tanpa pemimpin, yang membalaskan dendam sang master. Legenda yang mengedepankan kode kehormatan para samurai, ini sudah ada sejak abad ke-18 dan berkali-kali diangkat ke berbagai medium, terutama di Jepang. Untuk peredaran internasional, Hollywood belum lama ini (tahun 2013) mengangkat kisah 47 Ronin lewat film berjudul sama yang dibintangi Keanu Reeves, tapi ternyata hasilnya flop. Kali ini hasil patungan Korea Selatan dan Republik Ceko mencoba untuk mengadaptasi kisah 47 Ronin menjadi lebih bebas, dengan dukungan sutradara Jepang, Kazuaki Kiriya (Casshern dan Goemon), serta bintang Clive Owen dan Morgan Freeman.

Dengan kemasan fantasi yang tidak terikat oleh keotentikan kisah aslinya, Last Knights (LK) seharusnya bisa bebas berfantasi, mulai dari karakter-karakter, desain produksi, hingga mungkin jalan ceritanya sendiri. Namun rupanya kebebasan ini tak begitu dimanfaatkan maksimal. Memang, dengan setting yang tak disebutkan, pun juga tak begitu jelas di mana dan kapan, kita diajak melihat manusia-manusia dari berbagai latar belakang budaya (mulai Caucasian, Asian, dan bahkan pemimpinnya Negroid) bercampur dalam satu melting pot, yang kalau dilihat dari pakaian dan armornya berasal dari abad Medieval. Kejadian yang mustahil terjadi pada abad itu, namun in the name of fantasy, masih sah-sah saja.

As I said before, LK hanya memanfaatkan kebebasannya hanya sampai sebatas itu. Sisanya, tak banyak yang menarik. Ceritanya masih banyak berpatok pada kisah 47 Ronin, hanya saja porsi sebelum kematian sang master yang lebih banyak daripada aslinya. Porsi masa transisi dari kematian sang master sampai pelaksanaan rencana balas dendamnya juga cukup panjang namun dieksekusi dengan sangat plain dan draggy. Well wait, actually kalau Anda sudah mengetahui kisah 47 Ronin yang sebenarnya, sepanjang durasi film ini sebenarnya memang plain dan draggy. Naskah yang ‘biasa-biasa saja’ dan tanpa inovasi ini masih diperparah dengan penyutradaraan Kiriya yang gagal untuk menjadikannya lebih menarik. Tak hanya adegan-adegan ‘tak bernyawa’ dan tanpa emosi, fighting scenes-nya pun tampak (dan memang terasa) seperti sudah dikoreografi dengan rapi. Seperti melihat sebuah atraksi, bukan pertarungan yang sebenarnya.

Untung saja LK masih punya Morgran Freeman dan Clive Owen yang bisa sedikit membuat saya bertahan untuk mengikuti kisahnya. Morgran Freeman sebagai sang master, Bartok, as usual, tampil dengan kharisma yang begitu kuat meski porsinya tak sampai separuh film. Clive Owen masih patut dihargai effortnya untuk tampil serius dan ‘hidup’ di balik karakternya, Raiden, yang ditulis dengan lame.

Selain dari kedua nama itu, tak banyak membantu menyelamatkan LK. Aksel Hennie sebagai Gezza Mott mungkin berhasil menghidupkan karakter menteri yang serakah dan licik, namun tak cukup kuat untuk jadi villain yang patut diperhitungkan. Lagi-lagi, faktor penulisan karakter yang sudah lemah duluan. Sementara Peyman Moaadi yang dulu pernah tampil memukau di film Iran, A Seperation, kali ini sangat terasa miscast sebagai sang Emperor. Ah come on, dari suaranya saja sudah tidak cocok sebagai seorang Kaisar yang harusnya punya wibawa besar.

Tak ada yang begitu istimewa pula di divisi teknis. Mulai sinematografi yang biasa-biasa saja, namun cukup efektif dalam bercerita, sampai tata suara yang hanya sampai tahap ‘aman’. Belum begitu berhasil menghidupkan atmosfer, termasuk di adegan-adegan peperangan. Malah cenderung seperti film TV atau video.

Well, LK mungkin masih menyisakan inti cerita legenda 47 Ronin yang bagus, terutama bagi penonton yang belum mengenal kisah aslinya. Namun selain dari itu, tak ada yang istimewa dari berbagai aspeknya. Kebebasan yang dimiliki, sayangnya tak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Maybe next time.


Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.