2.5/5
Action
Adventure
Based on a Legend
Drama
Europe
medieval
Politic
Pop-Corn Movie
The Jose Flash Review
War
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Last Knights
47 Ronin adalah cerita legenda
asal Jepang tentang para ronin, ksatria samurai tanpa pemimpin, yang
membalaskan dendam sang master. Legenda yang mengedepankan kode kehormatan para
samurai, ini sudah ada sejak abad ke-18 dan berkali-kali diangkat ke berbagai
medium, terutama di Jepang. Untuk peredaran internasional, Hollywood belum lama
ini (tahun 2013) mengangkat kisah 47 Ronin lewat film berjudul sama yang
dibintangi Keanu Reeves, tapi ternyata hasilnya flop. Kali ini hasil patungan
Korea Selatan dan Republik Ceko mencoba untuk mengadaptasi kisah 47 Ronin
menjadi lebih bebas, dengan dukungan sutradara Jepang, Kazuaki Kiriya (Casshern dan Goemon), serta bintang Clive Owen dan Morgan Freeman.
Dengan kemasan fantasi yang tidak
terikat oleh keotentikan kisah aslinya, Last
Knights (LK) seharusnya bisa bebas berfantasi, mulai dari
karakter-karakter, desain produksi, hingga mungkin jalan ceritanya sendiri.
Namun rupanya kebebasan ini tak begitu dimanfaatkan maksimal. Memang, dengan
setting yang tak disebutkan, pun juga tak begitu jelas di mana dan kapan, kita
diajak melihat manusia-manusia dari berbagai latar belakang budaya (mulai
Caucasian, Asian, dan bahkan pemimpinnya Negroid) bercampur dalam satu melting
pot, yang kalau dilihat dari pakaian dan armornya berasal dari abad Medieval.
Kejadian yang mustahil terjadi pada abad itu, namun in the name of fantasy,
masih sah-sah saja.
As I said before, LK hanya
memanfaatkan kebebasannya hanya sampai sebatas itu. Sisanya, tak banyak yang
menarik. Ceritanya masih banyak berpatok pada kisah 47 Ronin, hanya saja porsi
sebelum kematian sang master yang lebih banyak daripada aslinya. Porsi masa
transisi dari kematian sang master sampai pelaksanaan rencana balas dendamnya
juga cukup panjang namun dieksekusi dengan sangat plain dan draggy. Well wait,
actually kalau Anda sudah mengetahui kisah 47 Ronin yang sebenarnya, sepanjang
durasi film ini sebenarnya memang plain dan draggy. Naskah yang ‘biasa-biasa
saja’ dan tanpa inovasi ini masih diperparah dengan penyutradaraan Kiriya yang gagal
untuk menjadikannya lebih menarik. Tak hanya adegan-adegan ‘tak bernyawa’ dan
tanpa emosi, fighting scenes-nya pun tampak (dan memang terasa) seperti sudah
dikoreografi dengan rapi. Seperti melihat sebuah atraksi, bukan pertarungan
yang sebenarnya.
Untung saja LK masih punya
Morgran Freeman dan Clive Owen yang bisa sedikit membuat saya bertahan untuk
mengikuti kisahnya. Morgran Freeman sebagai sang master, Bartok, as usual,
tampil dengan kharisma yang begitu kuat meski porsinya tak sampai separuh film.
Clive Owen masih patut dihargai effortnya untuk tampil serius dan ‘hidup’ di
balik karakternya, Raiden, yang ditulis dengan lame.
Selain dari kedua nama itu, tak
banyak membantu menyelamatkan LK. Aksel Hennie sebagai Gezza Mott mungkin
berhasil menghidupkan karakter menteri yang serakah dan licik, namun tak cukup
kuat untuk jadi villain yang patut diperhitungkan. Lagi-lagi, faktor penulisan
karakter yang sudah lemah duluan. Sementara Peyman Moaadi yang dulu pernah
tampil memukau di film Iran, A Seperation,
kali ini sangat terasa miscast sebagai sang Emperor. Ah come on, dari suaranya
saja sudah tidak cocok sebagai seorang Kaisar yang harusnya punya wibawa besar.
Tak ada yang begitu istimewa pula
di divisi teknis. Mulai sinematografi yang biasa-biasa saja, namun cukup efektif
dalam bercerita, sampai tata suara yang hanya sampai tahap ‘aman’. Belum begitu
berhasil menghidupkan atmosfer, termasuk di adegan-adegan peperangan. Malah
cenderung seperti film TV atau video.
Well, LK mungkin masih menyisakan
inti cerita legenda 47 Ronin yang bagus, terutama bagi penonton yang belum
mengenal kisah aslinya. Namun selain dari itu, tak ada yang istimewa dari
berbagai aspeknya. Kebebasan yang dimiliki, sayangnya tak dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Maybe next time.