The Jose Flash Review
SPL 2: A Time for Consequences (殺破狼2)

Semua tahu perfilman Hong Kong identik dengan film action, apalagi dengan premise dasar cops vs crooks. Beberapa ada yang terdengar gaungnya secara internasional, seperti Infernal Affairs yang bahkan sampai di-remake oleh seorang Martin Scorsese. Film cops vs crooks lainnya yang juga sempat ramai dibicarakan adalah SPL – Sha Po Long (2005) atau Kill Zone di Amerika Serikat. Meski punya premise dasar yang tak beda jauh dari cops vs crooks lainnya, SPL mendasarkan ceritanya pada kepercayaan astrologi Cina akan tiga bintang yang mempengaruhi nasib manusia; Qi Sha simbol kekuasaan, Po Jun simbol penghancuran, dan Tan Lang simbol ketamakan. Namun tentu saja komoditas utamanya adalah adegan-adegan martial art brutal, apalagi dengan bintang-bintang seperti Donnie Yen, Simon Yam, Sammo Hung, dan Jing Wu. Sekuelnya pun sempat direncanakan sejak lama, bahkan naskah yang sudah disiapkan sebagai sekuel bertransformasi jadi film lain berjudul Fatal Move (2008). Akhirnya tahun 2014, barulah terealisasi produksi sekuelnya yang resmi. Tak main-main, SPL 2 ternyata sempat berhasil menjadi box office nomer 2 di Cina, di belakang Jurassic World, dan nomer 3 worldwide box office di belakang Jurassic World dan Inside Out.

Tak perlu ragu atau takut untuk menyaksikan SPL 2: A Time for Consequences tanpa menonton SPL pertama, karena SPL 2 punya storyline yang berbeda jauh meski Simon Yam dan Wu Jin kembali di sekuelnya. Mereka berdua memerankan karakter yang berbeda dengan di SPL pertama. Masih bermain-main di lingkup cops vs crooks, hanya saja kali ini Lai-yin Leung memasukkan cukup banyak bumbu yang lebih menggigit di naskahnya. Jing Wu yang di seri pertama memerankan karakter villain, kali ini memegang karakter polisi utama, Kit, yang memburu sindikat penjualan organ tubuh illegal, di bawah supervisi pamannya, Wah (Simon Yam). Sementara itu di Thailand, seorang petugas penjara, Chai (Tony Jaa) yang bingung karena putrinya harus segera menemukan donor sumsum tulang belakang karena leukemia, ditakdirkan untuk bertemu dengan Kit dan masuk dalam pusaran kasus kejahatan internasional yang melibatkan polisi korup dan bos sindikat, Hung (Louis Koo). Plot ini jadi menarik karena konsep fate yang mau tak mau mengharuskan banyak faktor kebetulan. Well, in this case, saya tidak pernah mengeluh dengan faktor kebetulan dalam film, karena saya sendiri percaya kebetulan itu memang selalu terjadi dalam kehidupan, as it has already designed by someone. Pun, plot serba terkait dan kebetulan ini juga memperkuat serta memperjelas konsep Sha Po Long atau tiga bintang yang filosofinya menjadi judul.

Namun yang terbaik dari SPL 2 tidak hanya dari naskahnya yang mampu mengait-ngatikan berbagai peristiwa namun masih dalam logika yang masuk akal, tapi juga bagaimana sutradara Cheang Pou-Soi (Dog Bite Dog, Shamo, dan The Monkey King versi 2014) mampu menjahit kesemuanya dengan porsi yang serba pas serta keseimbangan antara aksi adrenaline tinggi dan drama yang menguras emosi. Tak usah mempertanyakan adegan-adegan aksi martial art brutal yang porsi dan tingkat keseruannya meningkat cukup drastis. Bahkan beberapa adegan aksinya termasuk never before seen dan ikonik. Apalagi ada beberapa adegan aksi yang diiringi lagu yang calming dan (bahkan) musik klasik Vivaldi. Epic!

Tak hanya itu, tanpa mengurangi intensitas adegan-adegan aksinya, Pou-Soi mampu menyelipkan adegan-adegan drama yang berhasil menyentuh secara maksimal tanpa terasa terlalu menye-menye pula. Mungkin ‘jahitannya’ terasa agak kasar, namun masing-masing aspek yang dihadirkan sama-sama berhasil dengan maksimal. Hasilnya, SPL2 seperti perkawinan yang harmonis antara martial art brutal dengan drama kemanusiaan yang sangat menyentuh. Toh ‘jahitan’ yang agak kasar punya tujuan untuk tidak menurunkan intensitas adegan-adegan aksinya sebagai sajian utama. Pou-Soi juga berhasil mengatasi kendala bahasa (Thai dan Cantonese) dengan memanfaatkan emoji yang bikin tersenyum.

Sebagai dua karakter utama, Tony Jaa dan Wu Jing mampu memainkan perannya dengan sangat baik. Tak hanya saat adegan-adegan baku hantam, tapi juga drama menyentuhnya. Louis Koo memainkan peran villain dengan begitu kharismatik dan bengis di balik fisiknya yang tampak rapuh. Simon Yam meski tak begitu terasa menonjol karena kekuatan 2 karakter utamanya, masih mampu menarik simpati penonton. Zhang Jin sebagai kepala penjara pun tak kalah bengisnya ketimbang Louis Koo.

Kekuatan teknis terutama terletak pada sinematografi yang merekam tiap koreografi dan latar dengan sangat indah, termasuk long take adegan prison riot yang dengan 'liar' mengajak penonton keliling penjara, serta tentu saja editing yang cekatan namun cermat menjahit adegan-adegan menjadi kesatuan yang seimbang. Tak ketinggalan tata suara yang terdengar mantap tanpa terasa berlebihan seperti SPL pertama, serta musik yang banyak menggunakan score klasik untuk menambah feel epic adegan-adegannya, tanpa (lagi-lagi) terasa berlebihan bak sinetron seperti SPL pertama.

So buat yang suka film aksi martial art brutal seperti The Raid, SPL 2 jelas haram untuk melewatkannya di layar lebar. As for me, ia sudah masuk daftar saya untuk salah satu film aksi terbaik tahun ini, worldwide.

Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.