4/5
Action
Bromance
China
Chinese
Crime
Drama
Father-and-Daughter
Gore
Martial Art
sequel
Thailand
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
SPL 2: A Time for Consequences (殺破狼2)
Semua tahu perfilman Hong Kong
identik dengan film action, apalagi dengan premise dasar cops vs crooks.
Beberapa ada yang terdengar gaungnya secara internasional, seperti Infernal Affairs yang bahkan sampai
di-remake oleh seorang Martin Scorsese. Film cops vs crooks lainnya yang juga
sempat ramai dibicarakan adalah SPL – Sha
Po Long (2005) atau Kill Zone di
Amerika Serikat. Meski punya premise dasar yang tak beda jauh dari cops vs
crooks lainnya, SPL mendasarkan ceritanya pada kepercayaan astrologi Cina akan
tiga bintang yang mempengaruhi nasib manusia; Qi Sha simbol kekuasaan, Po Jun
simbol penghancuran, dan Tan Lang simbol ketamakan. Namun tentu saja komoditas
utamanya adalah adegan-adegan martial art brutal, apalagi dengan
bintang-bintang seperti Donnie Yen, Simon Yam, Sammo Hung, dan Jing Wu.
Sekuelnya pun sempat direncanakan sejak lama, bahkan naskah yang sudah
disiapkan sebagai sekuel bertransformasi jadi film lain berjudul Fatal Move (2008). Akhirnya tahun 2014,
barulah terealisasi produksi sekuelnya yang resmi. Tak main-main, SPL 2
ternyata sempat berhasil menjadi box office nomer 2 di Cina, di belakang Jurassic World, dan nomer 3 worldwide
box office di belakang Jurassic World dan
Inside Out.
Tak perlu ragu atau takut untuk
menyaksikan SPL 2: A Time for
Consequences tanpa menonton SPL pertama, karena SPL 2 punya storyline yang
berbeda jauh meski Simon Yam dan Wu Jin kembali di sekuelnya. Mereka berdua
memerankan karakter yang berbeda dengan di SPL pertama. Masih bermain-main di
lingkup cops vs crooks, hanya saja kali ini Lai-yin Leung memasukkan cukup
banyak bumbu yang lebih menggigit di naskahnya. Jing Wu yang di seri pertama
memerankan karakter villain, kali ini memegang karakter polisi utama, Kit, yang
memburu sindikat penjualan organ tubuh illegal, di bawah supervisi pamannya,
Wah (Simon Yam). Sementara itu di Thailand, seorang petugas penjara, Chai (Tony
Jaa) yang bingung karena putrinya harus segera menemukan donor sumsum tulang
belakang karena leukemia, ditakdirkan untuk bertemu dengan Kit dan masuk dalam
pusaran kasus kejahatan internasional yang melibatkan polisi korup dan bos
sindikat, Hung (Louis Koo). Plot ini jadi menarik karena konsep fate yang mau
tak mau mengharuskan banyak faktor kebetulan. Well, in this case, saya tidak
pernah mengeluh dengan faktor kebetulan dalam film, karena saya sendiri percaya
kebetulan itu memang selalu terjadi dalam kehidupan, as it has already designed
by someone. Pun, plot serba terkait dan kebetulan ini juga memperkuat serta
memperjelas konsep Sha Po Long atau tiga bintang yang filosofinya menjadi
judul.
Namun yang terbaik dari SPL 2
tidak hanya dari naskahnya yang mampu mengait-ngatikan berbagai peristiwa namun
masih dalam logika yang masuk akal, tapi juga bagaimana sutradara Cheang
Pou-Soi (Dog Bite Dog, Shamo, dan The Monkey King versi 2014) mampu menjahit kesemuanya dengan porsi
yang serba pas serta keseimbangan antara aksi adrenaline tinggi dan drama yang
menguras emosi. Tak usah mempertanyakan adegan-adegan aksi martial art brutal
yang porsi dan tingkat keseruannya meningkat cukup drastis. Bahkan beberapa
adegan aksinya termasuk never before seen dan ikonik. Apalagi ada beberapa
adegan aksi yang diiringi lagu yang calming dan (bahkan) musik klasik Vivaldi.
Epic!
Tak hanya itu, tanpa mengurangi
intensitas adegan-adegan aksinya, Pou-Soi mampu menyelipkan adegan-adegan drama
yang berhasil menyentuh secara maksimal tanpa terasa terlalu menye-menye pula.
Mungkin ‘jahitannya’ terasa agak kasar, namun masing-masing aspek yang
dihadirkan sama-sama berhasil dengan maksimal. Hasilnya, SPL2 seperti
perkawinan yang harmonis antara martial art brutal dengan drama kemanusiaan
yang sangat menyentuh. Toh ‘jahitan’ yang agak kasar punya tujuan untuk tidak
menurunkan intensitas adegan-adegan aksinya sebagai sajian utama. Pou-Soi juga
berhasil mengatasi kendala bahasa (Thai dan Cantonese) dengan memanfaatkan
emoji yang bikin tersenyum.
Sebagai dua karakter utama, Tony
Jaa dan Wu Jing mampu memainkan perannya dengan sangat baik. Tak hanya saat
adegan-adegan baku hantam, tapi juga drama menyentuhnya. Louis Koo memainkan
peran villain dengan begitu kharismatik dan bengis di balik fisiknya yang
tampak rapuh. Simon Yam meski tak begitu terasa menonjol karena kekuatan 2
karakter utamanya, masih mampu menarik simpati penonton. Zhang Jin sebagai
kepala penjara pun tak kalah bengisnya ketimbang Louis Koo.
Kekuatan teknis terutama terletak pada sinematografi yang merekam tiap koreografi dan latar dengan sangat indah, termasuk long take adegan prison riot yang dengan 'liar' mengajak penonton keliling penjara, serta
tentu saja editing yang cekatan namun cermat menjahit adegan-adegan menjadi
kesatuan yang seimbang. Tak ketinggalan tata suara yang terdengar mantap tanpa
terasa berlebihan seperti SPL pertama, serta musik yang banyak menggunakan
score klasik untuk menambah feel epic adegan-adegannya, tanpa (lagi-lagi) terasa
berlebihan bak sinetron seperti SPL pertama.
So buat yang suka film aksi
martial art brutal seperti The Raid,
SPL 2 jelas haram untuk melewatkannya di layar lebar. As for me, ia sudah masuk
daftar saya untuk salah satu film aksi terbaik tahun ini, worldwide.
Lihat data film ini di IMDb.