4/5
Action
Blockbuster
Box Office
Drama
Family
Film Lebaran
Hindi
Pop-Corn Movie
Psychological
Romance
Sport
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Sultan
Tak beda jauh dengan Indonesia,
Hari Raya Idul Fitri (Eid) juga menjadi ajang perilisan film-film hi-profile
dan blockbuster di ranah perfilman Hindi, terutama dengan formula masala
(gabungan berbagai genre yang diracik menjadi satu: seringkali drama keluarga,
romantis, dan action) yang menjadi signatural Bollywood. Sejak 2009 lewat Wanted, Salman Khan menjadi aktor
favorit pengisi film-film Lebaran di India. Dilanjutkan Dabangg tahun 2010, Bodyguard
2011, Ek Tha Tiger 2012, Kick 2014, dan tahun 2015 lalu, Bajrangi Bhaijaan. Dari film ke film
selalu mengalami peningkatan pendapatan. Tak heran jika Salman Khan menjadi
ikon liburan Eid yang diincar major studio. Tahun ini Yash Raj yang merupakan
salah satu studio terbesar di India, sekali lagi bekerja sama dengan Salman
setelah Ek Tha Tiger. Mengangkat
karakter pegulat India fiktif yang berjaya di Olimpiade, Yash Raj tampak
menggarap serius Sultan dengan
berbagai buzz yang menarik perhatian. Mulai ditunjuknya sutradara/penulis
naskah Ali Abbas Zafar (sebelumnya bekerja sama dengan Yash Raj di Mere Brother Ki Dulhan dan Gunday), rumor bergabungnya berbagai
aktor populer yang mengisi peran pelatih Sultan, seperti Sylvester Stallone dan
Sanjay Dutt, sampai Farah Khan yang ditunjuk sebagai koreografer. Untuk peran yang
dilakoni pun Salman dan Anushka Sharma menjalani pelatihan gulat yang tak
main-main.
Liga pertunjukan MMA (Mixed
Martial Arts) campuran milik Aakash Oberoi terus-menerus mengalami penurunan
penonton yang ikut mempengaruhi minat investor. Atas saran sang ayah, ia
mencoba menemui mantan pegulat India (satu-satunya) yang pernah menang di
Olimpiade, Sultan Ali Khan di sebuah kota kecil bernama Haryana. Melihat
kondisi fisik Sultan yang sekarang, Aakhash sempat ragu. Namun setelah melihat
aksinya menarik traktor, Aakash bersikeras ingin Sultan ikut dalam liga
‘pertarungan bebas’-nya. Karena aiming-iming uang sebesar apapun tak mempan,
Aakash menemui sahabat Sultan, Govind, yang akhirnya menceritakan masa lalu dan
bagaimana Sultan bisa menjadi atlet gulat yang sampai berhasil meraih medali
emas di Olimpiade. Semuanya melibatkan ambisi, seorang pegulat wanita bernama
Aarfa Hussain yang kelak menjadi istrinya, sampai tragedi yang membuatnya
membenci gulat.
Secara garis besar plotline, Sultan sangat setia pada pakem generik
masala Bollywood. Dibuka dengan sebuah krisis yang membutuhkan karakter utama
sebagai solusi, kemudian kembali ke flashback yang membuat sang karakter
menolak untuk menjadi solusi krisis. Tentu saja flashback melibatkan pula kisah
asmara klasik dan struggle dengan ambisi tinggi untuk mencapai tujuan, tapi
akhirnya berakhir tragedi. Pasca overture/interval, barulah masuk ke struggle
utama dengan setting masa kini yang memuat klimaks penebusan. Very formulaic, very
generic in Bollywood term. Tapi jangan salah, dengan penggarapan serta
penyutradaraan Zafar yang tepat, hikayat perjalanan panjang Sultan disampaikan dengan begitu
menghibur lewat adegan-adegannya, mulai atraksi kecekatanan Sultan yang mengundang
decak kagum sekaligus tawa, drama keluarga yang sangat menyentuh, musical
performances yang memanjakan mata serta telinga, dan tentu saja adegan-adegan
pertarungan mixed martial arts yang menegangkan sekaligus bikin penonton cemas
akan keadaan Sultan. Durasi yang mencapai 170 menit berhasil membuat perjalanan
hidup Sultan terasa begitu epic dengan berbagai ups and downs, padat namun
mengalir dengan sangat lancar dan porsi yang serba pas, tak sedikit pun terasa
membosankan.
Memerankan Sultan, Salman Khan
dituntut tak hanya memainkan karakter utama secara kuat, tapi juga fisik yang
prima dan koreografi yang tergolong rumit. Hasilnya, menurut saya ini adalah
salah satu performance terbaik Salman sampai saat ini. Terutama sekali
perkembangan karakter yang berhasil dimainkannya dengan perpindahan yang smooth
dan natural. Mulai pria 30-an yang ceria, berubah menjadi highly ambitious atas
nama cinta, arogan, hingga penyesalan yang luar biasa. Bak sebuah rangkaian
track roller coaster yang berliku-liku, kadang signifikan, tapi semuanya terasa
mengalir begitu saja. Chemistry yang dibangun dengan Anushka Sharma (ups and
downs pula) pun terbangun dengan begitu convincing. Manis, heartbreaking, tapi
we all obviously can feel the love aroung them both. Tentu ini juga tak lepas
dari peran Anushka Sharma yang memainkan karakter Aarfa dengan tak kalah
powerfulnya meski secara porsi masih sedikit di bawah karakter Sultan.
Sementara Anant Sharma sebagai Govind, Amit Sadh sebagai Aakash Oberoi, dan
Randeep Hooda sebagai Fateh Singh, pelatih Sultan, memberikan performa yang
cukup memorable sesuai porsi masing-masing. Terakhir, tentu saja jajaran
petarung asli yang jelas membuat adegan-adegan pertarungan makin seru dan
mendebarkan.
Layaknya Bollywood’s masala
kebanyakan, Sultan didukung teknis
serba mumpuni untuk menghidupkan adegan-adegannya. Terutama sinematografi Artur
Zurawski yang pergerakan kameranya selaras dengan pace film yang enerjik,
mem-framing desain produksi Rajnish Hedao yang serba cantik, sekaligus membuat
koreografi Farah Khan terkesan begitu nyata dan brutal. Dengan editing
Rameshwar S. Bhagat yang juga membuat film terasa dinamis, tapi tetap berhasil
mengeksploitasi emosi di momen-momen yang tepat. Score dari Julius Packiam
masih tergolong generik di genre masala, tapi setidaknya cukup berhasil
‘mewarnai’ adegan-adegan menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Begitu pula
lagu-lagu dari Vishal-Shekhar yang cukup catchy, terutama favorit saya, Baby Ko Bass Pasand Hai, Jag Ghoomeya, dan tentu saja main title
yang terus bergema dalam ingatan jauh setelah film berakhir. Tak boleh
diabaikan pula kredit untuk sound design terutama dalam menghidupkan arena MMA
dengan maksimal.
Sebagai tontonan khas Lebaran, Sultan jelas menjadi paket masala yang
highly entertaining, termasuk jika Anda merindukan film Hindi dengan musical
performance yang semakin jarang akhir-akhir ini. Tak berlebihan dan diletakkan
pada momen-momen yang pas sehingga tak mengganggu rollercoaster emosi film,
sajian musical performance Sultan
termasuk mengesankan. Tak heran jika sampai tulisan ini dibuat, Sultan sudah menduduki posisi ketiga
penghasilan tertinggi di India sepanjang masa sekaligus mengejar posisi My Name is Khan untuk pasar luar negeri
terbesar. Tentu ini juga semakin mengukuhkan Salman Khan sebagai ikon Raja Film
Lebaran.
Lihat data film ini di IMDb.