The Jose Flash Review
Lights Out

Tahun 2013 lalu penggemar horor disuguhi sebuah film pendek berjudul Lights Out garapan sutradara David F. Sandberg yang sedianya dibuat untuk diikutsertakan dalam sebuah kompetisi. Video berdurasi kurang dari 3 menit ini (bisa ditonton di sini) memang tak menang kompetisi tersebut tapi segera menjadi viral. Para agen pun berlomba-lomba mengontak Sandberg, termasuk Lawrence Grey dan James Wan yang tertarik untuk mengembangkannya menjadi film layar lebar panjang. Maka Sandberg bekerja keras untuk meyakinkan Wan bahwa ia punya treatment yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Melibatkan penulis naskah Eric Heisserer (remake A Night on Elm Street dan The Thing, Final Destination 5, Hours, serta upcoming film Denis Villeneuve, Arrival), Lights Out (LO) versi layar lebar pun diproduksi dengan budget ‘hanya’ US$ 4.9 juta. Aktris Teresa Palmer dan Maria Bello ditunjuk untuk mengisi peran-peran utama. Ini menandai debut Sandberg (dan juga istrinya, Lotta Losten yang tampil lagi setelah di versi film pendeknya) di layar lebar.

Film dibuka dengan terbunuhnya seorang pengusaha bernama Paul secara misterius. Penonton kemudian diperkenalkan pada Rebecca, seorang tattoo artist yang sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seorang pria bernama Bret. Mendadak Rebecca dipanggil oleh pihak sekolah karena sang adik tiri, Martin, sering tertidur saat pelajaran. Setelah menginterogasi Martin, Rebecca semakin penasaran dengan kondisi sang ibu, Sophie yang terlihat kondisi jiwanya makin mengkhawatirkan setelah menjanda. Ternyata ada sosok supranatural di rumah  yang mempengaruhi kejiwaan Sophie dan berkaitan dengan masa lalunya. Rebecca pun memutuskan untuk mengabaikan keretakan hubungan dirinya dengan sang ibu demi menyelamatkan keluarganya dari cengkraman sosok supranatural yang diketahui bernama Diana.

Mengembangkan plot dari sebuah film pendek yang sejatinya hanya peristiwa matikan-nyalakan lampu sampai sosok misterius yang hanya muncul ketika gelap terlihat, menjadi sebuah plot film panjang sebenarnya adalah sebuah tantangan terbesar yang dihadapi oleh Sandberg. Ia memilih treatment plot sederhana yang bahkan tak melibatkan terlalu banyak karakter maupun set. Klise dan penggunaan pendekatan keluarga untuk membangun ikatan emosi serta simpati dari penonton juga sudah menjadi formula standard di film horor beberapa tahun terakhir. Namun somehow, saya merasa pengembangan plot, terutama konsep serta latar belakang sosok supranatural yang diperkenalkan sebagai Diana di sini sangat menarik. Plot kemudian disusun dengan runtutan yang tak kalah menariknya. Sebagai adegan pembuka, penonton seolah sudah di-warning bahwa sosok Diana ini berbahaya. Ia mampu membunuh. Tak seperti kebanyakan horor yang membuka dengan adegan jumpscare semata. Dengan demikian penonton menjadi semakin awas dengan ancaman kematian yang bisa datang kapan saja. Bagi saya, ini adalah modal yang efektif untuk menebarkan teror sepanjang film.

Kemudian bagaimana ia mulai memperkenalkan karakter-karakter sentral satu per satu, lengkap bersama koneksi mereka dengan karakter yang terbunuh di adegan pembuka,  dikembangkan dengan tak kalah bikin penasarannya. At some point, sempat mengaburkan persepsi penonton (dan sebenarnya bisa mempengarahui fantasi penonton tentang kelanjutan plot), berhasil membuat saya semakin penasaran sambil terus bermain tebak-tebakan akan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana latar belakang sosok Diana. Hingga ketika satu per satu misterinya terungkap, LO membombardir penonton dengan adegan-adegan mencekam, kejar-kejaran dengan sosok Diana yang sengaja dibuat misterius sampai satu titik tertentu di klimaks. Menggabungkan silent moment, jump-scare, dan kejar-kejaran (dengan sosok yang hanya muncul ketika gelap) yang ditampilkan secara bergantian, paruh ketiga LO adalah rangkaian sport jantung yang sebenarnya. Cliché and repetitive, but a lot of heart-pumping fun. Jika mau dipikir-pikir dan dianalisis lagi, sejak awal hingga akhir, LO adalah sajian yang memang sengaja dibuat se-simple mungkin. (Latar belakang) sosok Diana dan relasi kekeluargaan antar karakter secukupnya, tak ada yang memperlihatkan kedalaman lebih. Namun somehow, overall, sangat efektif di berbagai upayanya, baik sebagai horor maupun drama keluarga. 

Dipasang sebagai karakter utama, Rebecca, Teresa Palmer mungkin tak beda dengan tipikal ‘final girl’ di berbagai film horor. Benar-benar tak ada yang istimewa. Namun kharismanya di layar, terutama faktor kecantikan fisik yang semakin terpancar dibandingkan sebelum-sebelumnya, tetap berhasil mengundang simpati penonton. Kemudian Maria Bello sebagai Sophie yang lebih dari cukup untuk menggambarkan kondisi kejiwaan yang tak stabil. Mengundang rasa iba tapi juga bikin ngeri di sisi lain. Alexander DiPersia sebagai Bret tak terlalu istimewa meski ia punya momen di klimaks yang (akhirnya) bisa menarik simpati penonton setelah hanya bisa bikin penonton iba dengan kondisinya sebagai korban PHP (Pemberi Harapan Palsu). Above all, si cilik Gabriel Bateman sebagai Martin tampil mencuri perhatian bagi saya pribadi.

LO mengeksplor berbagai penggunaan teknis untuk membangun nuansa horornya, seperti sinematografi Marc Spicer yang seolah mengajak penonton mengikuti plot sesuai yang diinginkan lewat bidikan gambar. Pun juga memanfaatkan sinematografi untuk berbagai adegan jump-scare secara efektif, tentu saja permainan lighting yang menjadi salah satu elemen terkuat dari LO. Editing Michael Aller semakin mempertegas nuansa-nuansa seram yang ingin dibangun lewat momentum-momentum yang serba tepat. Begitu juga desain dan tata suara yang terasa memainkan peranan yang tak kalah pentingm termasuk permainan silent moment yang mencekam. Bahkan saya mendengar ada efek suara yang begitu samar antara suara sungguhan atau hanya efek suara dari kanal rear (belakang). Terakhir, scoring Benjamin Wallfisch mungkin tak semencekam garapan-garapan Joseph Bishara di film-film Wan, tapi lebih dari cukup untuk mendukung adegan-adegan menegangkannya.


So, LO memang menawarkan sajian horor yang berjalan teramat sangat sederhana tapi efektif dalam berbagai kepentingan yang menjadi ekspektasi Anda dari sebuah film horor supranatural, terutama sebagai pemicu adrenalin. Jauh dari kesan hingar-bignar seperti yang ditawarkan The Conjuring 2. Kendati demikian, plotnya tetap asyik untuk diikuti dan buat main tebak-tebakan meski sadar bakal cliché. Bagi penggemar horor, LO jelas pantang untuk dilewatkan. Siap-siap juga siapa tahu Anda jadi parno tidur dengan lampu padam selama beberapa hari setelah menyaksikan filmnya. Lagian WarnerBros., New Line Cinema, dan Attomic Monster milik Wan, sudah memberi lampu hijau pembuatan sekuel setelah berhasil mengumpulkan lebih dari empat kali modal hanya pada weekend pertama (sampai tulisan ini dibuat sudah melewati angka US$ 99 juta!). This definitely would be another Wan’s hitmaker franchise.

Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.