4/5
based on short feature
Blockbuster
Box Office
Drama
Family
Franchise
Hollywood
Horror
Mother-and-Daughter
Pop-Corn Movie
Psychological
The Jose Flash Review
Thriller
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Lights Out
Tahun 2013 lalu penggemar horor
disuguhi sebuah film pendek berjudul Lights
Out garapan sutradara David F. Sandberg yang sedianya dibuat untuk
diikutsertakan dalam sebuah kompetisi. Video berdurasi kurang dari 3 menit ini (bisa ditonton di sini) memang tak menang
kompetisi tersebut tapi segera menjadi viral. Para agen pun berlomba-lomba mengontak
Sandberg, termasuk Lawrence Grey dan James Wan yang tertarik untuk
mengembangkannya menjadi film layar lebar panjang. Maka Sandberg bekerja keras
untuk meyakinkan Wan bahwa ia punya treatment yang menarik untuk diangkat ke
layar lebar. Melibatkan penulis naskah Eric Heisserer (remake A Night on Elm Street dan The Thing, Final Destination 5, Hours, serta upcoming film Denis Villeneuve, Arrival),
Lights Out (LO) versi layar lebar pun
diproduksi dengan budget ‘hanya’ US$ 4.9 juta. Aktris Teresa Palmer dan Maria
Bello ditunjuk untuk mengisi peran-peran utama. Ini menandai debut Sandberg
(dan juga istrinya, Lotta Losten yang tampil lagi setelah di versi film
pendeknya) di layar lebar.
Film dibuka dengan terbunuhnya
seorang pengusaha bernama Paul secara misterius. Penonton kemudian
diperkenalkan pada Rebecca, seorang tattoo artist yang sedang menjalani
hubungan tanpa status dengan seorang pria bernama Bret. Mendadak Rebecca
dipanggil oleh pihak sekolah karena sang adik tiri, Martin, sering tertidur
saat pelajaran. Setelah menginterogasi Martin, Rebecca semakin penasaran dengan
kondisi sang ibu, Sophie yang terlihat kondisi jiwanya makin mengkhawatirkan
setelah menjanda. Ternyata ada sosok supranatural di rumah yang mempengaruhi kejiwaan Sophie dan
berkaitan dengan masa lalunya. Rebecca pun memutuskan untuk mengabaikan keretakan
hubungan dirinya dengan sang ibu demi menyelamatkan keluarganya dari cengkraman
sosok supranatural yang diketahui bernama Diana.
Mengembangkan plot dari sebuah
film pendek yang sejatinya hanya peristiwa matikan-nyalakan lampu sampai sosok
misterius yang hanya muncul ketika gelap terlihat, menjadi sebuah plot film
panjang sebenarnya adalah sebuah tantangan terbesar yang dihadapi oleh
Sandberg. Ia memilih treatment plot sederhana yang bahkan tak melibatkan
terlalu banyak karakter maupun set. Klise dan penggunaan pendekatan keluarga
untuk membangun ikatan emosi serta simpati dari penonton juga sudah menjadi
formula standard di film horor beberapa tahun terakhir. Namun somehow, saya
merasa pengembangan plot, terutama konsep serta latar belakang sosok
supranatural yang diperkenalkan sebagai Diana di sini sangat menarik. Plot
kemudian disusun dengan runtutan yang tak kalah menariknya. Sebagai adegan
pembuka, penonton seolah sudah di-warning bahwa sosok Diana ini berbahaya. Ia
mampu membunuh. Tak seperti kebanyakan horor yang membuka dengan adegan
jumpscare semata. Dengan demikian penonton menjadi semakin awas dengan ancaman
kematian yang bisa datang kapan saja. Bagi saya, ini adalah modal yang efektif
untuk menebarkan teror sepanjang film.
Kemudian bagaimana ia mulai
memperkenalkan karakter-karakter sentral satu per satu, lengkap bersama koneksi
mereka dengan karakter yang terbunuh di adegan pembuka, dikembangkan dengan tak kalah bikin
penasarannya. At some point, sempat mengaburkan persepsi penonton (dan
sebenarnya bisa mempengarahui fantasi penonton tentang kelanjutan plot),
berhasil membuat saya semakin penasaran sambil terus bermain tebak-tebakan akan
apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana latar belakang sosok Diana. Hingga
ketika satu per satu misterinya terungkap, LO membombardir penonton dengan
adegan-adegan mencekam, kejar-kejaran dengan sosok Diana yang sengaja dibuat
misterius sampai satu titik tertentu di klimaks. Menggabungkan silent moment,
jump-scare, dan kejar-kejaran (dengan sosok yang hanya muncul ketika gelap)
yang ditampilkan secara bergantian, paruh ketiga LO adalah rangkaian sport
jantung yang sebenarnya. Cliché and repetitive, but a lot of heart-pumping fun.
Jika mau dipikir-pikir dan dianalisis lagi, sejak awal hingga akhir, LO adalah
sajian yang memang sengaja dibuat se-simple mungkin. (Latar belakang) sosok
Diana dan relasi kekeluargaan antar karakter secukupnya, tak ada yang
memperlihatkan kedalaman lebih. Namun somehow, overall, sangat efektif di
berbagai upayanya, baik sebagai horor maupun drama keluarga.
Dipasang sebagai karakter utama,
Rebecca, Teresa Palmer mungkin tak beda dengan tipikal ‘final girl’ di berbagai
film horor. Benar-benar tak ada yang istimewa. Namun kharismanya di layar,
terutama faktor kecantikan fisik yang semakin terpancar dibandingkan
sebelum-sebelumnya, tetap berhasil mengundang simpati penonton. Kemudian Maria
Bello sebagai Sophie yang lebih dari cukup untuk menggambarkan kondisi kejiwaan
yang tak stabil. Mengundang rasa iba tapi juga bikin ngeri di sisi lain.
Alexander DiPersia sebagai Bret tak terlalu istimewa meski ia punya momen di
klimaks yang (akhirnya) bisa menarik simpati penonton setelah hanya bisa bikin
penonton iba dengan kondisinya sebagai korban PHP (Pemberi Harapan Palsu).
Above all, si cilik Gabriel Bateman sebagai Martin tampil mencuri perhatian
bagi saya pribadi.
LO mengeksplor berbagai
penggunaan teknis untuk membangun nuansa horornya, seperti sinematografi Marc
Spicer yang seolah mengajak penonton mengikuti plot sesuai yang diinginkan
lewat bidikan gambar. Pun juga memanfaatkan sinematografi untuk berbagai adegan
jump-scare secara efektif, tentu saja permainan lighting yang menjadi salah
satu elemen terkuat dari LO. Editing Michael Aller semakin mempertegas
nuansa-nuansa seram yang ingin dibangun lewat momentum-momentum yang serba
tepat. Begitu juga desain dan tata suara yang terasa memainkan peranan yang tak
kalah pentingm termasuk permainan silent moment yang mencekam. Bahkan saya
mendengar ada efek suara yang begitu samar antara suara sungguhan atau hanya
efek suara dari kanal rear (belakang). Terakhir, scoring Benjamin Wallfisch
mungkin tak semencekam garapan-garapan Joseph Bishara di film-film Wan, tapi
lebih dari cukup untuk mendukung adegan-adegan menegangkannya.
So, LO memang menawarkan sajian
horor yang berjalan teramat sangat sederhana tapi efektif dalam berbagai kepentingan
yang menjadi ekspektasi Anda dari sebuah film horor supranatural, terutama
sebagai pemicu adrenalin. Jauh dari kesan hingar-bignar seperti yang ditawarkan
The Conjuring 2. Kendati demikian,
plotnya tetap asyik untuk diikuti dan buat main tebak-tebakan meski sadar bakal
cliché. Bagi penggemar horor, LO jelas pantang untuk dilewatkan. Siap-siap juga
siapa tahu Anda jadi parno tidur dengan lampu padam selama beberapa hari
setelah menyaksikan filmnya. Lagian WarnerBros., New Line Cinema, dan Attomic
Monster milik Wan, sudah memberi lampu hijau pembuatan sekuel setelah berhasil
mengumpulkan lebih dari empat kali modal hanya pada weekend pertama (sampai
tulisan ini dibuat sudah melewati angka US$ 99 juta!). This definitely would be
another Wan’s hitmaker franchise.
Lihat data film ini di IMDb.