4/5
Based on a True Event
Biography
Comedy
Drama
Family
Friendship
Indonesia
Pop-Corn Movie
Socio-cultural
Sport
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
3 Srikandi
Film bertemakan sport terhitung
masih jarang di perfilman nasional. Alasan utamanya adalah tak banyak cabang
olahraga yang populer sehingga sulit pula untuk menarik minat penonton. So far
hanya sepak bola yang paling sering diangkat ke layar nasional karena memang
merupakan olahraga paling populer dengan sejuta umat di tanah air. Misalnya Tendangan dari Langit (2011), Hattrick (2012), Hari Ini Pasti Menang (2013), Garuda
di Dadaku (2009) dan sekuelnya (2011), serta Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014). Di luar sepak bola, ada
biografi legenda bulu tangkis, Liem Swie King lewat King (2009) dan Mari Lari
(2014). Tahun 2016 ini Multivision Plus mencoba menghadirkan olahraga yang
sebenarnya termasuk eksklusif tapi pernah menorehkan prestasi besar dalam
sejarah Indonesia di Olimpiade; panahan. Membidik kiprah tiga pemanah wanita
yang berhasil membawa pulang medali Olimpiade pertama bagi Indonesia, 3 Srikandi (3S) dirilis berdekatan
dengan event Olimpiade 2016 yang mana sebuah keputusan yang sangat tepat, baik
untuk mempromosikan filmnya maupun menggugah masyarakat untuk lebih peduli dan
mendukung terhadap kiprah atlet-atletnya di ajang bergengsi tingkat dunia.
Menyatukan aktor-aktris papan atas tanah air seperti Reza Rahadian, Bunga Citra
Lestari, Chelsea Islan, dan Tara Basro, bangku sutradara dipercayakan kepada
Iman Brotoseno (debut layar lebarnya setelah selama ini lebih dikenal di
penggarapan TVC) yang sekaligus menulis naskahnya bersama Swastika Nohara yang
pernah menulis naskah untuk Hari Ini
Pasti Menang dan Cahaya dari Timur:
Beta Maluku.
Tahun 1988, Indonesia berniat
mengirimkan wakil-wakilnya di Olimpiade 24 di Seoul. Salah satu cabang olahraga
yang menjadi perhatian adalah panahan putri. Di tengah kebingungan memilih
pelatih yang layak, Udi berupaya membujuk mantan Robin Hood Indonesia yang dulu
gagal berangkat ke Olimpiade Rusia karena urusan politik agar mau menjadi
pelatih panahan putri Indonesia. Meski awalnya menolak karena masih sakit hati,
Donald Pandiangan akhirnya setuju dengan syarat tidak ada intervensi dari
organisasi atas metode yang ia gunakan. Akhir penyaringan menyisakan
Nurfitriyana atau yang biasa dipanggil Yana dari Jakarta, Lilies dari Surabaya,
dan Kusuma dari Ujung Pandang. Gemblengan keras dari Donald berbenturan dengan
problema-problema pribadi serta keluarga masing-masing menjelang keberangkatan
ke Seoul. Above all, kiprah ketiganya saat pertandingan lah yang menjadi
penentuan atas apa yang telah mereka lalui dan upayakan selama ini.
Meski merupakan sebuah biopic, 3S
lebih menggunakan formula-formula film keluarga (dan sport) a la Disney.
Alih-alih menjadi tontonan yang berat dan serius, ia lebih memilih menjadi
sajian tontonan hiburan yang menyenangkan. Ada momen-momen dramatis yang tak
sampai berlebihan tapi lebih dari cukup untuk membuat penonton bersimpati,
momen-momen romantis yang manis tanpa jatuh menjadi terasa cheesy, momen-momen
keluarga yang hangat, persahabatan dan perjuangan yang seru, menggelitik,
sekaligus menyenangkan, sampai momen puncak yang menegangkan. Kesemuanya ditampilkan
dengan keseimbangan serta momentum yang serba pas, mengisi durasi yang sekitar
dua jam tanpa begitu terasa. Pengalaman Iman di penggarapan TVC yang mewajibkan
kemampuan visualisasi dan bercerita dengan lugas dan timing singkat tentu
menjadi faktor utama bagaimana 3S bisa bercerita dengan lancar.
Kendati terasa ringan dan
menyenangkan, naskah 3S terasa disusun dengan baik, efektif, serta detail di
atas rata-rata. Termasuk yang menjadi perhatian utama saya (serta memikat saya)
adalah detail latar belakang masing-masing atlet (dan bahkan Donald Pandiangan
sendiri) yang bisa mewakili kondisi warna-warni sosiokultural keluarga di
Indonesia pada umumnya, termasuk pola pikir masyarakat tentang profesi dan masa
depan. Meski bersetting 1988, nyatanya masih sangat relevan sampai saat ini.
Bukti bahwa pola pikir masyarakat kita basically belum banyak berkembang? Bisa
jadi. Naskah juga melakukan permainan tricky-plot yang mampu membuat penonton
penasaran sekaligus memberikan penjelasan yang memuaskan.
Tak perlu meragukan lagi performa
Reza Rahadian yang mungkin sampai membuat penonton berujar ‘Reza lagi, Reza
lagi’. Mau bagaimana lagi, Reza adalah pilihan dengan kharisma paling tepat
untuk peran Donald Pandiangan. Tak hanya ekspresi dan gesture yang dengan sangat
kuat menjelaskan watak karakter (favorit saya, trembling hand ketika emosi setelah ditegur Udi), tapi juga sorot
mata dan semua elemen yang memungkinkan mampu membuat penonton memahami
karakter Donald. Dari deretan tiga Srikandi, Chelsea Islan sebagai Lilies
menjadi highlight paling terang, terutama berkat gesture dan aksen khas
Suroboyoan yang begitu kuat. Sesekali masih ada penggunaan bahasa dan aksen
yang kelepasan, tapi overall Chelsea lah yang berhasil paling bersinar. Bunga
Citra Lestari berada di porsi berikutnya dengan performa yang setara di
film-filmnya yang lain. Terakhir, Tara Basro sebagai Kusuma yang tergolong
paling pendiam dan kalem terasa punya porsi paling sedikit, tapi ia cukup
memanfaatkan porsi yang ada dengan maksimal. Family moment yang manis dan
menyentuh melibatkan karakternya. Tak perlu meragukan aksen khas Ujung Pandang
(sekarang Makassar) yang dituturkan dengan luwes dan convincing oleh Tara
karena ia sendiri memang berasal dari Makassar. Di deretan pemeran pendukung,
ada Donny Damara, Mario Irwinsyah, Joshua Pandelaki, Ivanka Suwandi, Detri
Warmanto, dan Indra Birowo yang cukup noticeable dalam membawakan peran
masing-masing dengan porsi yang terbatas.
Teknis 3S terasa digarap dengan
maksimal dan mumpuni pula. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful yang tak hanya
mampu mem-framing adegan-adegan dengan efektif dalam bercerita, tapi juga
pergerakan kamera yang dinamis terutama untuk adegan musikal Yana, Lilies, dan
Kusuma, serta slow-motion dengan detail dan smooth movement luar biasa. Editing
Sastha Sunu pun menjaga pace cerita menjadi serba pas. Desain produksi yang
cantik, terutama terlihat pada desain kostum dan setting yang so 80’s. Ada
kelepasan minor terkait setting waktu, seperti logo KAI dan billboard Smart TV
di Korea Selatan, tapi bagi saya masih bisa dimaklumi kesulitannya yang tak
sebanding dengan fungsi. Aghi Narottama seperti biasa menghadirkan scoring yang
serba sesuai dengan kebutuhan adegan, terutama membawa nuansa grande di banyak
kesempatan. Pengiring opening title-nya mungkin sedikit mengingatkan saya akan
intro Crazy in Love dari Beyoncé,
tetapi ternyata berbeda secara keseluruhan. Tak boleh ketinggalan juga
kemunculan lagu-lagu 80-an seperti Ratu
Sejagad-nya Vina Panduwinata, Astaga
dari Ruth Sahanaya, dan Tentang Kita dari KLa Project yang tak hanya menyemarakkan suasana tapi juga
berhasil membawa nostalgia bagi penonton yang relate. Terakhir, theme song Tundukkan Dunia yang dibawakan BCL terdengar begitu bersahaja bak sebuah hymne atau lagu nasional.
Secara keseluruhan, 3S merupakan
biopic yang digarap dengan keseimbangan yang sangat baik dari hampir seluruh
aspeknya. Mulai naskah, teknis, sampai elemen-elemen pendukung setting. All the
right moves in the right proportion dalam menyampaikan kisahnya yang klise
tetapi jadi tetap menarik untuk diikuti, dengan latar sosiokultural yang
relevan sampai saat ini, fun factor yang seimbang, dan yang terpenting,
semangat nasionalisme yang jauh dari kesan pretensius. Tak berlebihan
sebenarnya jika saya menobatkan 3S sebagai salah satu film bertemakan olahraga
sekaligus biopic Indonesia terbaik yang pernah dibuat sampai saat ini. Sayang
untuk dilewatkan di layar lebar.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.