3D
4/5
Adventure
Based on Book
Blockbuster
Box Office
Comedy
Drama
Fable
Fairy Tale
Family
Fantasy
Franchise
Friendship
Hollywood
IMAX
Pop-Corn Movie
sisterhood
Summer Movie
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Alice Through the Looking Glass (2016)
Alice in Wonderland (AiW - 2010) menandai salah satu
prestasi besar dari kegemaran Walt Disney Pictures mengangkat animasi-animasi
klasiknya ke format live action. Bagaimana tidak, sebanyak US$ 1.025 milyar
berhasil dibukukan dari peredaran di seluruh dunia. Maka pembuatan sekuel dan
menjadikannya salah satu franchise paling berharga jelas sebuah opsi. Apalagi
sumber aslinya, novel karya Lewis Carroll memang punya sekuel bertajuk Alice Through the Looking Glass (ATtLG).
Selama ini sebenarnya novel sekuel ini sudah beberapa kali diangkat ke film,
meski hanya berupa film TV (terakhir versi tahun 2008 dengan bintang Kate
Beckinsale) maupun yang dijadikan satu dengan materi cerita dari novel
pertamanya. Ada alasan mengapa Disney selama ini belum pernah mengangkat ATtLG
ke dalam format animasi seperti prekuelnya yang menjadi sebuah karya klasik.
ATtLG punya materi cerita yang jauh lebih gelap dan rumit untuk target audience
utama anak-anak. Apalagi jika dicermati, Carroll menggunakan pendekatan semacam
permainan catur untuk menyusun narasi ATtLG. Maka ketika dirasa dunia sudah
siap dengan kisah gelap dan rumit, Walt Disney Pictures akhirnya berani
mengangkatnya ke layar lebar untuk pertama kali. Itu pun dengan melakukan
perombakan cerita besar-besaran sehingga hanya menyisakan beberapa elemen minor
dari cerita aslinya serta, tentu saja, titel yang masih dipertahankan. Tim
Burton tak lagi duduk sebagai sutradara dan mempercayakannya kepada James Bobin
yang sebelumnya sukses mengangkat kembali The
Muppets versi 2011 dan sekuelnya, Muppets
Most Wanted (2014), dengan naskah yang masih disusun oleh Linda Woolverton.
Sementara para cast utama kembali melanjutkan peran masing-masing yang sudah
termasuk ikonik.
Tiga tahun terakhir
setelah meninggalkan Underland, Alice Kingsleigh mengikuti jejak sang ayah
menjadi kapten kapal menjelajahi dunia. Ketika kembali ke London, ia mendapati
perusahaan pelayaran sang ayah jatuh ke tangan mantan tunangannya, Hamish
Ascot, termasuk kapal peninggalan dari sang ayah sebagai ganti dari rumah
keluarganya. Meski sama sekali tak menyetujuinya, Alice tak punya pilihan lain.
Di saat gundah, ia menemukan sebuah cermin yang ditunjukkan oleh Absolem dan
membawanya kembali ke Underland. Sekali lagi ia bertemu kawan-kawan lamanya,
seperti White Queen, White Rabbit, Cheshire Cat, dan si kembar Tweedles.
Mereka menyambut kunjungan
Alice dengan gundah juga. Penyebabnya adalah Mad Hatter yang beberapa hari
belakangan mengurung diri di rumah. Benar, hanya Alice yang bisa disambut oleh
Mad Hatter. Mad Hatter baru saja menemukan sesuatu yang membuatnya yakin bahwa
seluruh keluarganya masih hidup. Karena kondisi Mad Hatter yang terus memburuk,
Alice bertekad untuk mencari keluarga Mad Hatter. White Queen menunjukkan
portal menuju Sang Waktu (Time) untuk meminjam semacam mesin waktu bernama
Chronosphere yang bisa membawa Alice kembali ke momen dimana terakhir kali
keluarga Mad Hatter diketahui. Petualangan Alice pun dimulai sekali lagi.
Membandingkan materi
cerita dari novel dengan versi live-action, ATtLG versi 2016 jelas lebih
mencoba untuk menyambung secara langsung kisah dari AiW. Bahkan ada konflik
dari AiW, terutama tentang relasi antara White Queen dan Red Queen yang
diangkat dan diselesaikan di installment ini. Dengan setup cerita yang masih
serupa AiW, ATtLG ternyata menyuguhkan kisah petualangan yang lebih terasa
ketimbang sebelumnya. Tentu ini juga merupakan kesempatan untuk membawa
penonton menjelajahi lebih jauh universe ajaib nan penuh warna yang sudah
dipamerkan di installment sebelumnya. For that purpose, ATtLG bagi saya jauh
lebih impressive sebagai sebuah tontonan petualangan seru yang mengasyikkan.
Ditambah value yang lebih banyak, tak hanya menyoroti emansipasi wanita di
tengah budaya patriarki, pun juga berhasil menyatu dengan konsep besar cerita,
terutama tentang waktu dan makna sebuah kata ‘maaf’, konsep yang ditawarkan
ATtLG tergolong pengembangan yang bagus dan solid. Secara keseluruhan, konsep
ATtLG terasa kaya value, solid, seimbang, dan tak ada yang terasa tumpang
tindih.
Speaking of Burton’s
legacy, adegan-adegan serta elemen-elemen ATtLG mungkin tidak se-signatural
AiW, tapi bukan berarti buruk pula. Bobin masih menjalankan perannya sebagai
sutradara sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, terutama dalam menggarap kisah
petualangan yang tetap menarik untuk diikuti dan aman (serta mudah dipahami)
untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga.
Most of the returning
original cast masih memberikan kualitas performa yang tak jauh berbeda dari
installment sebelumnya. Terutama Mia Wasikowska yang tetap memikat sebagai
Alice Kingsleigh yang tangguh dan lovable. Anne Hathaway sebagai Mirana alias
White Queen punya momen yang heartbreaking di klimaks. Helena Bonham Carter
sebagai Red Queen alias Iracebeth kali ini juga diberi kedalaman lebih yang
memberikannya kesempatan menarik simpati penonton. Begitu pula Johnny Depp
sebagai Mad Hatter yang turut kebagian emotional part yang cukup menyentuh.
Sacha Baron Cohen sebagai karakter baru, Time (Sang Waktu), seperti biasa
berhasil mencuri perhatian lewat performa eksentriknya. Tak ada aktor yang
lebih tepat memerankan karakter Time selain Cohen. Terakhir, tak boleh
ketinggalan voice performance terakhir mendiang Alan Rickman sebagai Absolem
yang kali ini sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
Seperti halnya AiW, ATtLG
masih memberikan visual spectacle yang luar biasa, terutama dari desain
produksi universe yang begitu memanjakan mata. Penyutradaraan Bobin ditambah
sinematografi Stuart Dryburgh yang secara efektif mengeksplorasi desain
produksinya bersinergi dengan plot adventure menjadi menarik serta seru untuk
diikuti. Experience di layar IMAX jelas menjadi opsi terbaik untuk memaksimalkan
segala visual spectacle-nya. Apalagi aspect ratio 1.85:1 yang memaksimalkan fasilitas layar IMAX. Efek 3D-nya menurut saya tergolong biasa-biasa
saja. Depth of field yang cukup dan tak banyak gimmick pop-out yang ‘mencolok’.
Experience 3D mungkin berbeda dengan versi Large Picture Format lainnya,
seperti Sphere-X yang konon punya efek 3D yang lebih memanjakan. Editing Andrew
Weisblum turut andil dalam menjaga pace serta porsi menjadi serba pas. Scoring
Danny Elfman masih se-‘magis’ di AiW, membawa kembali feel adventurous yang
serupa. Sayangnya ATtLG hanya punya Just
Like Fire dari P!nk sebagai soundtrack. Tak se-‘meriah’ AiW yang sampai
punya satu album khusus kumpulan lagu-lagu inspired by the movie yang dihiasi
musisi-musisi bergengsi.
However flop-nya ATtLG (‘hanya’
berhasil mengumpulkan sekitar US$ 76 juta di Amerika Utara saja dan US$ 287
juta di seluruh dunia which is tak sampai sepertiga penghasilan AiW) dan review
negatif dari media luar negeri sempat menurunkan minat saya untuk menonton. Nyatanya
ketika menyaksikannya, I have to say I love ATtLG way more than AiW. Baik
sebagai sajian petualangan seru yang sangat menghibur dan memanjakan panca
indera, maupun konsep dengan values yang bersinergi dengan solid. Jika Anda
suka dengan AiW dan tertarik akan tawaran ATtLG, I suggest to go for it.
Abaikan review negatif dan penghasilan box office-nya. Siapa tahu Anda termasuk
yang setuju dengan pendapat saya atas ATtLG.
Lihat data film ini di IMDb.
Lihat data film ini di IMDb.