3.5/5
Action
Adventure
Blockbuster
Box Office
Espionage
Franchise
Hollywood
Pop-Corn Movie
Summer Movie
The Jose Flash Review
Thriller
The Jose Flash Review
The Jose Flash Review
Jason Bourne
Meski merupakan adaptasi bebas
berdasarkan karakter dan premise yang ditulis oleh Almarhum Robert Ludlum,
Jason Bourne menjelma menjadi franchise yang sangat berharga bagi Universal
Pictures. Bagaimana tidak, ketiga installment pertama sesuai judul asli novel
yang ditulis oleh Ludlum total mengumpulkan lebih dari US$ 945 juta. Sama
seperti novelnya yang masih terus dilanjutkan dengan penulis lain, Universal
Pictures tak mau semudah itu menyudahi franchise layar lebar ini. Sayang,
antusiasme ini tak diikuti Paul Greengrass dan Matt Damon yang belum tertarik
untuk segera menggarap installment keempat setelah The Bourne Ultimatum (TBU, 2007). Universal tak kehabisan akal.
Dibangunlah sebuah universe yang lebih luas demi memperpanjang ‘usia’
franchise. The Bourne Legacy (TBL,
2012) dengan aktor utama Jeremy Renner sebagai karakter yang memegang tongkat
estafet Jason Bourne, Aaron Cross dan disutradarai Tony Gilroy. Hasilnya tak
buruk sebenarnya, dengan total penghasilan lebih dari US$ 276 juta.
Sesaat kemudian tiba-tiba Damon
dan Greengrass menyatakan tertarik untuk menggarap installment Bourne
selanjutnya. Dengan naskah yang disusun oleh Greengrass sendiri bersama sang
editor, Christopher Rouse. TBL sendiri yang sempat direncanakan dibuatkan
sekuel dengan sutradara Justin Lin, terpaksa mengalah sampai 2018. Dengan
mengusung nama Damon dan Greengrass, tentu Universal Pictures berharap fans
seri aslinya kembali antusias dengan keseluruhan franchise yang mereka bangun.
Beberapa tahun setelah operasi
Brackbriar terbongkar, Jason Bourne memilih untuk hidup low profile sebagai
petarung bayaran di ring bawah tanah. Tiba-tiba Nicky Parsons mendatanginya dan
mengabari bahwa ia baru saja menemukan dokumen rahasia CIA tentang keterlibatan
sang ayah, Richard Webb dalam program Treadstone. Direktur CIA, Robert Dewey,
pun tak tinggal diam. Dibantu kepala divisi operasi cyber, Heather Lee, mereka
memburu Bourne dan Nicky. Berbekal data-data yang dibawa Nicky, Bourne pun
kembali melacak kepingan masa lalunya yang hilang. Ternyata kembalinya Bourne
membuat rahasia operasi rahasia CIA berikutnya yang melibatkan CEO media sosial
Deep Dream, Aaron Kalloor, terancam terbongkar. Maka Bourne dan Dewey saling
memburu demi kepentingan masing-masing.
Jika Anda mengikuti ketiga film
pertamanya, Anda pasti paham bagaimana sebenarnya plotline Jason Bourne tak
perlu lagi di-panjang-panjang-kan jika hanya mengutak-atik masa lalunya.
Berbeda dengan franchise mata-mata lain seperti James Bond yang memang fokus
‘maju ke depan’, dalam artian selalu ada kasus baru untuk dipecahkan. Jika
Bourne mau mengembangkan ke arah yang sama (atau jika mau melibatkan flashback
masa lalu sebagai setup cerita, boleh lah sedikit-sedikit), menurut saya,
adalah opsi yang lebih baik tanpa terkesan ‘dipaksakan’. Sayangnya, Jason Bourne (JB) memilih untuk masih
bermain-main dengan puzzle masa lalu karakter Jason Bourne. Memang ada sih
elemen ‘ke depan’, tapi ternyata hanyalah sebagai dampak dari konflik semata,
bukan fokus maupun porsi terutama. Apalagi ternyata permainan ‘masa lalu Jason
Bourne’ ini terkesan benar-benar baru dan mengabaikan hasil-hasil discovering
dari ketiga seri sebelumnya. Bahkan di sini tidak ada kejadian di trilogi
pertama yang disinggung maupun ditampilkan sebagai flashback, termasuk
karakter-karakter kunci yang seolah tak pernah ada, kecuali hanya nama operasi
Brackbriar dan Treadstone. Mungkin ini ditujukan untuk penonton baru yang tidak
mengikuti trilogy utama agar masih memahami plotnya, tapi bagi fans lama, ini
adalah rangkaian kejanggalan.
Jika mau dianalisis dan diambil
kesimpulan, JB hanya menawarkan daur ulang plot dari trilogi utama (terutama The Bourne Supremacy), lengkap dengan
adegan-adegan identik bak membentuk template tersendiri. Tak ada perkembangan
karakter yang berarti, termasuk untuk karakter Jason Bourne sendiri. Maka
jangan mengharapkan akan menemukan fakta baru atau mengenal lebih dalam tentang
karakter Jason Bourne di sini. It’s a pure hide-and-seek dengan bumbu adu
kecerdasan action thriller khas trilogy utama yang coba ditampilkan kembali
untuk me-revive signature-signature-nya atau sekedar menawarkan nostalgia bagi
fans yang sudah terlanjur ‘cocok’ dengan style-style khasnya. Masih menghibur,
meski tak seintens, se-gripping, maupun se-klimaks trilogy utama. Bahkan adegan
kejar-kejaran dengan melibatkan kendaraan SWAT di Vegas terkesan ‘kasar’,
random, dan less choreographed jika dibandingkan adegan-adegan serupa di
seri-seri sebelumnya.
Seperti yang saya bahas
sebelumnya, tak ada perkembangan karater berarti termasuk Jason Bourne sendiri,
ditampilkan di sini. Maka dari segi akting, Matt Damon juga tak memberikan
performa sekuat di trilogy utama. It’s all the same, even in less proportion.
Satu aspek yang ‘baru’ mungkin tampilan fisiknya di sini yang terlihat lebih
berisi dan kekar dibandingkan di trilogy utama. Highlight yang lebih bersinar
justru pada performa Alicia Vikander sebagai Heather Lee. Karakter template
seperti Nicky Parsons di installment-installment sebelumnya sih, tapi berkat
kharismanya dalam menghidupkan karakter, Heather Lee menjelma menjadi karakter
yang menarik, sedikit misterius, dan bikin penasaran.
Tommy Lee Jones sebagai direktur
CIA, Robert Dewey, seperti biasa, memberikan kharisma yang memang sesuai dengan
karakternya. Tak buruk, tapi juga tak istimewa. He’s just so fit in such role.
Vincent Cassel sebagai The Asset juga cukup berhasil menjelma menjadi pembunuh
berdarah dingin penuh dendam pribadi. Begitu pula Riz Ahmed sebagai Aaron
Kalloor yang punya keseimbangan pas dan jelas dalam menampilkan kekhawatiran
sekaligus keberanian mengungkap kebenaran. Terakhir, kembalinya Julia Stiles
ternyata tak lebih dari sekedar sebagai penyambung plot sekaligus penghantar ke
konflik di seri ini.
Paul Greengrass masih menggunakan
pendekatan-pendekatan teknis yang sama untuk JB. Seperti sinematografi Barry
Ackroyd dengan shaky dan dynamic camera movement serta editing serba dinamis
dari Christopher Rouse untuk menghadirkan thrill-thrill serupa trilogy utama.
Begitu pula scoring John Powell dibantu David Buckley, masih identik dan tetap
berhasil mengiringi nuansa-nuansa thrilling-nya. Penggunaan Extreme Ways dari Moby yang sudah
menjadi theme song wajib di credit dengan remix yang cukup ‘menggigit’,
berhasil sekali lagi menutup film dengan vibe asyik. Sound design tergolong just
okay, dengan takaran yang serba pas untuk genrenya. Cukup dalam menghadirkan
nuansa-nuansa yang hidup, tapi memang tak ada yang benar-benar spesial.
Memang tak boleh mengharapkan
banyak dari JB. Jika Anda penonton yang mengikuti sejak film pertama, anggap
saja sebagai obat pelepas rindu terutama karena energi dan style visual
identik. Rasakan kembali nuansa thrill yang coba dibangun kembali meski
plotline-nya bisa dengan mudah Anda baca. Bagi Anda penonton baru yang belum
pernah menyaksikan installment-installment sebelumnya atau sudah lupa, welcome
to the club. Cicipi saja ‘rasa’ action thriller khasnya. Bila cocok, silakan
mencoba nonton trilogy utama yang memang penting untuk mendapatkan ‘the
ultimate experience’. Sebaliknya, ya anggap saja sebagai instant entertainment.
Lihat data film ini di IMDb.