The Jose Flash Review
Coco

Día de Muertos atau Day of the Dead adalah perayaan khas Meksiko untuk mengenang sekaligus memberikan dukungan atas perjalanan spiritual bagi anggota keluarga dan sahabat yang telah meninggal. Melibatkan altar bernama ofrendas dan persembahan makanan/minuman yang disukai oleh almarhum/almarhumah, perayaan serupa sebenarnya juga dimiliki budaya-budaya lain dengan sebutan serta tradisi yang berbeda-beda tapi punya satu tujuan: mengenang mereka yang telah meninggal. Meski ada beberapa agama atau aliran yang menganggap tradisi semacam ini sebagai bentuk penyembahan berhala, tradisi semacam ini masih dengan mudah ditemui di belahan dunia manapun. Dunia sinema pun berkali-kali mengangkat budaya Día de Muertos, baik sebagai tema utama maupun salah satu background adegan. Yang masih paling segar dalam ingatan adalah film animasi The Book of Life (2014) produksi Twentieth Century Fox Animation. Disney-Pixar pun tak mau kalah dengan proyek serupa yang tergolong ambisius. Memakan waktu produksi hingga memecahkan rekor terlama dalam sejarah mereka, yaitu mencapai enam tahun, proyek Coco dipercayakan kepada Lee Unkrich (co-director Toy Story 2, Monsters, Inc., Finding Nemo, Toy Story 3) dan Adrian Molina (storyboard artist Toy Story 3 dan salah satu penulis The Good Dinosaur). Pendatang baru, Anthony Gonzalez, dipercaya mengisi suara karakter utama, didukung Gael García Bernal, Benjamin Bratt, dan Alanna Ubach. 

Miguel bercita-cita menjadi musisi tapi sayangnya seluruh keluarganya justru anti-musik. Menurut cerita sih, semua bermula dari Mama Imelda yang ditinggal sang suami karena lebih memilih karir bermusik daripada keluarganya. Mama Imelda membesarkan putri satu-satunya, Coco, dengan menjalankan bisnis memproduksi sepatu. Sejak itu Mama Imelda mendoktrin generasi-generasi berikut dari keluarganya untuk membenci musik. Puncaknya ketika Miguel nekad ingin mengikuti kontes menyanyi bertepatan dengan perayaan Day of the Dead. Ia mencuri gitar milik Ernesto de la Cruz, musisi terkenal yang berasal dari desanya, Cecilia, untuk mengikuti kompetisi. Miguel malah dikutuk berada di tengah-tengah kondisi hidup dan mati. Belum benar-benar mati tapi ia bisa berkomunikasi dengan para orang mati dan tak terlihat maupun tersentuh oleh orang-orang yang masih hidup. Dibawa ke Dunia Orang Mati yang menakjubkan, petugas administrasi mengharuskan Miguel mendapatkan restu dari keluarganya yang sudah mati agar bisa kembali ke dunia orang hidup. Seluruh keluarganya bersedia memberi restu asalkan Miguel mau berjanji tidak akan pernah mengejar passion-nya dalam bermusik. Tak sepenuhnya rela, Miguel mencari cara lain agar bisa kembali ke dunia orang hidup sekaligus direstui bermusik. Petualangan di dunia orang mati pun dimulai, tapi ia harus berhasil mendapatkan restu tanpa syarat tersebut sebelum keesokan paginya atau ia akan menjadi sepenuhnya mati.
Pixar kembali melakukan hal terbaik yang menjadi ciri khasnya sejak lama; petualangan sederhana yang bisa dipahami dan dinikmati oleh semua kalangan usia dengan value yang tak muluk-muluk tapi sangat kuat, visual yang menakjubkan, serta emosi yang ‘menggugah’. Itu semua dimiliki oleh Coco. Pada lapisan terluar, Coco mengangkat tema pilihan mengejar passion atau keluarga. Istimewanya, ia berhasil membungkus tema yang sebenarnya lebih cocok untuk anak-anak menjelang remaja atau dewasa, dengan kemasan yang luar biasa imajinatif. Melewati struktur jalinan plot yang sebenarnya agak bertele-tele, terutama pada twisted revealing moment-nya. Namun setelah terlalui semua, terasa sekali bahwa masing-masing babak cerita punya fungsi yang saling mendukung, termasuk twisted revealing yang tak sekedar untuk gaya-gayaan dan come out of nowhere, tapi menjadi jembatan yang berkorelasi kuat terhadap esensi akhir sekaligus menjadi kelokan cerita yang menarik untuk disimak.
Melibatkan perayaan paling ikonik dalam budaya Meksiko, Day of the Dead, Coco menjelaskan esensi perayaan tersebut dengan sangat relevan dan efektif. Desain dunia orang mati yang serba modern dan komputerisasi berhasil merepresentasikan konsep dari budaya Day of the Dead dengan begitu luar biasa. Tak hanya dalam konteks budaya Day of the Dead, tapi konsep-konsep ini bisa diterima  oleh budaya manapun secara general dalam hal alasan mengapa kita harus mengenang orang-orang yang telah meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Sekedar filosofis dan/atau fantasi, tapi punya esensi yang sangat kuat dan di tangan tim luar biasa dari Pixar, jadi sangat menyentuh sisi-sisi emosional penonton. Anda pasti sangat berhati batu jika tidak sampai tersentuh oleh beberapa momen paling emosionalnya. 
Coco tak hanya membidik dari sudut pandang Miguel yang bergelut antara mimpi dan keluarganya, tapi juga menjadi perenungan bagi anggota keluarga yang sering memaksakan kehendak dan kepentingannya terhadap anggota keluarga yang lain. Reflektif dan menggugah proses self-healing yang lembut tapi tak kalah kuat. Konsep kematian yang selama ini terkesan menakutkan atau mengerikan sama sekali tak terpancar dari Coco. Tak ada alasan untuk membatasi anak-anak usia tertentu untuk bisa memahami plot maupun konsep-konsepnya. Toh kematian adalah bagian dari hidup yang tak terhindarkan. Pengenalan tentang konsep kematian yang benar dan tak kelewat depresif yang dilakukan oleh Coco, menurut saya adalah cara yang sangat baik bagi penonton usia berapapun.
Daya tarik lain yang menjadi pilar kekuatan utama lainnya adalah nomor-nomor musikal yang tak hanya ear-catchy, tapi punya emotional impact yang kuat. Tentu saja dengan gaya khas Meksiko yang begitu kental. Mulai La Llorona, Everyone Knows Juanita, Un Poco Loco, dan tentu saja mustahil untuk tidak terkesan oleh theme song Remember Me yang dibawakan dalam berbagai versi tapi punya kekuatan emosional yang luar biasa. Tak berlebihan jika saya menobatkannya sebagai salah satu theme song animasi Disney-Pixar yang paling memorable.
Tak perlu meragukan jajaran voice talent yang berhasil menghidupkan tiap karakter dengan begitu impactful. Terutama sekali Anthony Gonzales lewat keluguan, kenakalan, keputus-asaan, amarah, serta keceriaan karakter Miguel, Benjamin Bratt dalam menghembuskan kharisma kuat dalam karakter Ernesto de la Cruz, serta Gael García Bernal secara komikal dan dramatis untuk karakter Héctor. Sinematografi Matt Aspbury memanfaatkan kemegahan set-set sebagai latar petualangan yang sinematis dan seru, didukung editing Steve Bloom dan Lee Unkrich sendiri yang serba tepat momentum untuk berbagai kepentingan adegan, serta musical score dari Michael Giacchino yang memberikan warna dan emosi lebih.
Format 3D tak memberi efek yang cukup signifikan, baik dari segi kedalaman ruang maupun efek pop-out, tapi ada beberapa efek pop-out yang menarik, seperti misalnya tangan karakter Ceci yang menjulur keluar layar. 

Bagi saya pribadi, Coco merupakan salah satu pencapaian terbaik Disney-Pixar sampai saat ini. Setara dengan Toy Story Trilogy dan Up!. Tak hanya urusan emosional, tapi bangunan plot dan konsep-konsep Coco dalam menyampaikan esensinya punya relevansi yang saling terjalin kuat. Ajak seluruh anggota keluarga, bahkan jika masih ada sampai nenek atau nenek buyut, untuk menyaksikan film ini bersama. Terlepas apakah termasuk yang setuju untuk terus mengenang anggota keluarga yang telah meninggal atau yang menganggapnya berhala, Anda akan menemukan pentingnya mengenang mereka, baik secara filosofis maupun realistis. The most ultimate family movie in 2017.
P.S.: Jangan lupa ada opening short animation Olaf's Frozen Adventure yang akan menggugah semangat Natal tahun ini. Durasinya memang panjang, yaitu 21 menit, tapi bagi saya sangat menarik dengan esensi value yang sederhana tapi penting untuk menyambut perayaan Natal kelak. Sayang, tak semua lokasi mendapatkan opening short animation ini. Pastikan dulu di lokasi yang Anda tuju memutarkannya jika memang tertarik.
Lihat data film ini di IMDb.

The 90th Academy Awards Nominee for:

  • Best Animated Feature Film
  • Best Achievement in Music Written for Motion Picture (Original Song) - "Remember Me" 
Diberdayakan oleh Blogger.