3.5/5
Artistic
Based on TV show
Blockbuster
Comedy
Family
Fantasy
Horror
The Jose Movie Review
Vampire
The Jose Movie Review - Dark Shadows
Overview
Tim Burton dan Johnny Depp adalah
magnet tersendiri bagi beberapa kalangan pecinta film. Dimulai sejak Edward Scissorhands yang sudah menjadi
semacam cult-classic, kolaborasi keduanya berlanjut pada proyek-proyek seperti Sleepy Hollow, Charlie & The Chocolate Factory, Corpse Bride, Sweeney Todd, Alice in Wonderland, dan kali ini Dark Shadows. Tim Burton sendiri adalah
sutradara visioner yang memiliki ciri khas dalam berkarya. Sebelum Nolan, film
Batman yang paling menarik menurut saya adalah garapannya, Batman dan Batman Returns.
Jelas saja Depp yang juga memiliki karakter unik sehingga cocok memerankan
karakter-karakter eksentrik, menjadi begitu klop dengan visi Burton.
Dengan promosi yang tergolong
“mendadak” dimana cukup jarang terjadi mengingat potensi box office-nya, Dark Shadows (DS) kontan membuat banyak
orang, terutama fans Burton maupun Depp penasaran setengah mati. Belum lagi
ditambah berita bahwa aktris cilik yang mencuri perhatian lewat Kick-Ass, Chloë Grace Moretz turut
bergabung dengan “keluarga besar” Burton (sebelumnya kita mengenal “keluarga
Burton” hanya Depp dan Helena Bonham Carter, istri Burton sendiri di kehidupan
nyata).
Melihat dari premisenya, mungkin
banyak yang teringat dengan Adam’s Family
atau karya Burton yang juga menjadi klasik, Beetle
Juice. Tidak salah sih, memang ada beberapa elemen yang sama dengan kedua
film bertemakan gothic tersebut. Tapi tentu saja ada banyak hal yang
membedakan. Dengan premise yang menurut saya cukup menarik ini, seperti biasa
Burton membungkusnya dengan gayanya sendiri. Tentu saja maksud saya dalam arti
yang positif karena saya memang menyukai gaya penceritaan dan visualisasi
Burton. Namun sayang skrip yang mendasari film ini kurang digarap dengan baik.
Skrip menawarkan banyak hal
menarik untuk dieksplor, misalnya subplot, karakter-karakter beserta korelasi
antar-karakternya. Namun kesemuanya ini
kurang bisa dieksekusi dengan baik dan seimbang. Banyak subplot yang tidak
terselesaikan dengan memuaskan dan terkesan hanya numpang lewat. Plot utamanya
saja masih terasa mentah, harusnya masih bisa dibuat lebih menarik lagi. Untung
saja karakter Barnabas Collins dan Angelique Bouchard mampu dikembangkan dengan
sangat baik hingga akhir film. Sisanya harus puas dengan porsi yang tak banyak
padahal memliliki potensi menarik jika dieksplor sedikit lebih banyak.
Skrip pun tak banyak memberikan
hal-hal memorable yang mampu diingat penonton dalam jangka waktu lama.
Dialog-dialog dan guyonan bertema fish-out-of-the-water-nya ada yang berhasil,
ada pula yang garing. Kendati demikian secara keseluruhan tidak ada yang
berhasil stand-out menjadi ciri khas DS. Just mediocre but still entertaining
enough.
The Casts
Depp tentu saja menjadi perhatian
utama penonton. Bahkan bagi penonton awam yang tidak begitu mengenal Burton, ia
menjadi alasan utama menonton DS. And don’t worry, he did it very well as
expected here. Eva Green yang menjadi Angelique mampu mengimbangi kharisma
karakter Barnabas. I have to admit that her role here was beyond Vesper Lynd in
Casino Royale. Thanks to a very
interesting character given to her.
Helena Bonham Carter yang
karakternya di sini memiliki porsi tak sebanyak karakter-karakter yang
dipercayakan kepadanya di previous Burton’s masih mampu menebarkan kharisma
aktingnya di DS. Penampilannya mengingatkan saya akan karakter Mrs. Lovett di Sweeney Todd and she’s one of the most
memorable characters in DS.
Sementara Pfeiffer, Moretz, Lee
Miller, Earle Haley, McGrath, dan Heathcote, masih tetap tampak bermain bagus
walau porsi masing-masing tergolong minim dan diperlakukan seolah-olah tidak
begitu penting.
Technical
Bicara tentang Burton mustahil
untuk tidak membicarakan teknis produksinya. Yap, Burton dikenal sangat detail
dalam segi setting, properti, dan kostum. Malah justru kekuatan utama dalam
membangun “dunia” DS terletak pada departemen-departemen ini yang mampu
bersinergi dengan sempurna. Gothic and 70’s style have never fused as well as
shown in DS.
Special effect dan make-up juga
bekerja dengan sangat baik, terutama dalam menampilkan tubuh Angelique yang
berlekuk-lekuk bak Meryl Streep di Death
Becomes Her dan kulit porselen-nya yang retak. Excellent work!
Yang cukup unik bagi saya adalah
divisi sound editing. Entah karena pengaruh soundsystem bioskop tempat saya
menonton atau memang aslinya demikian, saya merasakan dialog-dialog yang ada
terdengar kurang keras dan terkesan tenggelam. Padahal sound effect dan music
terdengar dengan sangat jelas, crisp, dan efek surround-nya cukup
dimaksimalkan. Dengarkan saja lagu Top of
The World-nya The Carpenters yang terdengar sangat hidup.
The Essence
Ada banyak esensi yang coba
ditawarkan DS melalui subplot yang sayangnya tidak ada satu yang lebih kuat
dibandingkan yang lain, misalnya tentang cinta sejati yang bereinkarnasi ala Bram Stoker’s Dracula, ada pula tentang
cinta Angelique kepada Barnabas yang “memaksa” dengan sihir, dan juga tentang
keluarga sebagai harta yang paling berharga.
Namun ada satu hal yang menarik
bagi saya, yakni status Barnabas yang in-between antara kejahatan Setan dan
kebaikan manusia. Di satu sisi, ia adalah vampire yang jelas-jelas adalah
sekutu Setan. Apalagi ia masih menghisap darah manusia, tidak seperti Lestat
atau Edward Cullen yang meminum darah hewan. Akan tetapi di sisi lain ia masih
memiliki hati untuk melindungi keluarganya. Tentu he’s not a full-Satan karena
ia berubah karena ulah sihir Angelique. Barnabas menjadi representasi manusia
terburuk yang masih memiliki hati terutama jika berkaitan dengan keluarganya.
Just like one of the taglines, “Every family has its demons”.
Lihat data film ini di IMDB.