The Jose Movie Review - Dark Shadows



Overview
Tim Burton dan Johnny Depp adalah magnet tersendiri bagi beberapa kalangan pecinta film. Dimulai sejak Edward Scissorhands yang sudah menjadi semacam cult-classic, kolaborasi keduanya berlanjut pada proyek-proyek seperti Sleepy Hollow, Charlie & The Chocolate Factory, Corpse Bride, Sweeney ToddAlice in Wonderland, dan kali ini Dark Shadows. Tim Burton sendiri adalah sutradara visioner yang memiliki ciri khas dalam berkarya. Sebelum Nolan, film Batman yang paling menarik menurut saya adalah garapannya, Batman dan Batman Returns. Jelas saja Depp yang juga memiliki karakter unik sehingga cocok memerankan karakter-karakter eksentrik, menjadi begitu klop dengan visi Burton.

Dengan promosi yang tergolong “mendadak” dimana cukup jarang terjadi mengingat potensi box office-nya, Dark Shadows (DS) kontan membuat banyak orang, terutama fans Burton maupun Depp penasaran setengah mati. Belum lagi ditambah berita bahwa aktris cilik yang mencuri perhatian lewat Kick-Ass, Chloë Grace Moretz turut bergabung dengan “keluarga besar” Burton (sebelumnya kita mengenal “keluarga Burton” hanya Depp dan Helena Bonham Carter, istri Burton sendiri di kehidupan nyata).

Melihat dari premisenya, mungkin banyak yang teringat dengan Adam’s Family atau karya Burton yang juga menjadi klasik, Beetle Juice. Tidak salah sih, memang ada beberapa elemen yang sama dengan kedua film bertemakan gothic tersebut. Tapi tentu saja ada banyak hal yang membedakan. Dengan premise yang menurut saya cukup menarik ini, seperti biasa Burton membungkusnya dengan gayanya sendiri. Tentu saja maksud saya dalam arti yang positif karena saya memang menyukai gaya penceritaan dan visualisasi Burton. Namun sayang skrip yang mendasari film ini kurang digarap dengan baik.

Skrip menawarkan banyak hal menarik untuk dieksplor, misalnya subplot, karakter-karakter beserta korelasi antar-karakternya.  Namun kesemuanya ini kurang bisa dieksekusi dengan baik dan seimbang. Banyak subplot yang tidak terselesaikan dengan memuaskan dan terkesan hanya numpang lewat. Plot utamanya saja masih terasa mentah, harusnya masih bisa dibuat lebih menarik lagi. Untung saja karakter Barnabas Collins dan Angelique Bouchard mampu dikembangkan dengan sangat baik hingga akhir film. Sisanya harus puas dengan porsi yang tak banyak padahal memliliki potensi menarik jika dieksplor sedikit lebih banyak.

Skrip pun tak banyak memberikan hal-hal memorable yang mampu diingat penonton dalam jangka waktu lama. Dialog-dialog dan guyonan bertema fish-out-of-the-water-nya ada yang berhasil, ada pula yang garing. Kendati demikian secara keseluruhan tidak ada yang berhasil stand-out menjadi ciri khas DS. Just mediocre but still entertaining enough.

The Casts
Depp tentu saja menjadi perhatian utama penonton. Bahkan bagi penonton awam yang tidak begitu mengenal Burton, ia menjadi alasan utama menonton DS. And don’t worry, he did it very well as expected here. Eva Green yang menjadi Angelique mampu mengimbangi kharisma karakter Barnabas. I have to admit that her role here was beyond Vesper Lynd in Casino Royale. Thanks to a very interesting character given to her.

Helena Bonham Carter yang karakternya di sini memiliki porsi tak sebanyak karakter-karakter yang dipercayakan kepadanya di previous Burton’s masih mampu menebarkan kharisma aktingnya di DS. Penampilannya mengingatkan saya akan karakter Mrs. Lovett di Sweeney Todd and she’s one of the most memorable characters in DS.

Sementara Pfeiffer, Moretz, Lee Miller, Earle Haley, McGrath, dan Heathcote, masih tetap tampak bermain bagus walau porsi masing-masing tergolong minim dan diperlakukan seolah-olah tidak begitu penting.

Technical
Bicara tentang Burton mustahil untuk tidak membicarakan teknis produksinya. Yap, Burton dikenal sangat detail dalam segi setting, properti, dan kostum. Malah justru kekuatan utama dalam membangun “dunia” DS terletak pada departemen-departemen ini yang mampu bersinergi dengan sempurna. Gothic and 70’s style have never fused as well as shown in DS.

Special effect dan make-up juga bekerja dengan sangat baik, terutama dalam menampilkan tubuh Angelique yang berlekuk-lekuk bak Meryl Streep di Death Becomes Her dan kulit porselen-nya yang retak. Excellent work!

Yang cukup unik bagi saya adalah divisi sound editing. Entah karena pengaruh soundsystem bioskop tempat saya menonton atau memang aslinya demikian, saya merasakan dialog-dialog yang ada terdengar kurang keras dan terkesan tenggelam. Padahal sound effect dan music terdengar dengan sangat jelas, crisp, dan efek surround-nya cukup dimaksimalkan. Dengarkan saja lagu Top of The World-nya The Carpenters yang terdengar sangat hidup.

The Essence
Ada banyak esensi yang coba ditawarkan DS melalui subplot yang sayangnya tidak ada satu yang lebih kuat dibandingkan yang lain, misalnya tentang cinta sejati yang bereinkarnasi ala Bram Stoker’s Dracula, ada pula tentang cinta Angelique kepada Barnabas yang “memaksa” dengan sihir, dan juga tentang keluarga sebagai harta yang paling berharga.

Namun ada satu hal yang menarik bagi saya, yakni status Barnabas yang in-between antara kejahatan Setan dan kebaikan manusia. Di satu sisi, ia adalah vampire yang jelas-jelas adalah sekutu Setan. Apalagi ia masih menghisap darah manusia, tidak seperti Lestat atau Edward Cullen yang meminum darah hewan. Akan tetapi di sisi lain ia masih memiliki hati untuk melindungi keluarganya. Tentu he’s not a full-Satan karena ia berubah karena ulah sihir Angelique. Barnabas menjadi representasi manusia terburuk yang masih memiliki hati terutama jika berkaitan dengan keluarganya. Just like one of the taglines, “Every family has its demons”.

Lihat data film ini di IMDB.
Diberdayakan oleh Blogger.