The Jose Movie Review - Lovely Man


Overview
Teddy Soeriaatmadja adalah salah satu sutradara (sekaligus juga penulis naskah) Indonesia yang memiliki talenta menjanjikan. Terlihat sekali dari film ke film, keahliannya menyusun cerita sekaligus memvisualisasikannya semakin membaik. Tengok saja sejak Banyu Biru, Ruang, remake Badai Pasti Berlalu, Namaku Dick, dan Rumah Maida. Kini, ia kembali menulis sekaligus menyutradarai film layar lebar keenam yang juga diklaim oleh berbagai pihak sebagai pencapaian terbaiknya selama ini, Lovely Man.
Ini adalah film tentang hubungan ayah-anak yang telah lama terpisah, tidak hanya oleh ruang tapi juga oleh dunia kehidupan yang sangat kontras : Waria dan gadis berjilbab. Seperti sejatinya kehidupan, Lovely Man (LM) memilih untuk mengangkatnya secara sederhana. Tidak perlu kompleksitas cerita ala sinetron. Tak perlu pula menjustifikasi salah satu pihak. LM tampil apa adanya, realistis dan sangat mengena. Justru dari situlah premise LM menjadi sangat menarik untuk diikuti.
Cerita dibangun hanya melalui gesture serta dialog (juga hanya) oleh dua karakter : Saiful alias Ipuy dan putrinya, Cahaya. Hebatnya, justru cerita dapat mengalir dengan sangat lancar dan semakin lama semakin menarik hanya dengan bekal tersebut. Tentu hal ini tak terlepas dari kepiawaian Teddy dalam menentukan timing dan pace dari tiap dialog yang ada. Dimulai dengan canggung hingga lama-kelamaan semakin mencair dan chemistry ayah-anak antara keduanya terasa sangat akrab, termasuk dan terutama bagi penonton.
LM juga tidak merasa perlu untuk menutup cerita dengan jelas bagaimana nasib Ipuy dan Cahaya selanjutnya. Saya setuju, karena fokus utama di sini adalah bagaimana Ipuy dan Cahaya dengan perbedaan-perbedaan yang ada mampu menjadi akrab dan intim. That’s all. Dan dengan fokus tersebut, Teddy sangat berhasil mengeksekusinya. Satu adegan yang sangat indah dan jelas dalam mengkonklusi cerita : Cahaya menerima telepon dari pacarnya di sudut terang kota Jakarta sementara Ipuy berada di baliknya, sisi remang-remang, sedang tersenyum puas melihat putrinya berani menghadapi problemanya. They both are happy in their own realm. Lantas bagaimana endingnya? Penonton lah yang menentukan, apakah termasuk happy ending atau tidak. Jika dilihat dari sudut pandang kedua karakternya dan fokus tersebut, jelas LM memiliki happy ending yang sangat memuaskan. Walau pada akhirnya salah satu karakter harus meregang nyawa demi karakter yang lain, LM tak perlu menampilkannya.
Sebagai background cerita, Teddy memotret kota Jakarta pada saat yang paling pas (menurut karakter Ipuy) : rame nggak, dibilang sepi-sepi banget juga nggak. Jakarta yang tanpa glamoritas dan kemacetan. Yang ada justru warga golongan marginal : waria dan pemulung yang makan nasi bungkus sambil mengais sampah. Sebuah realitas kota megapolitan yang membuat saya terdiam dan terenyuh.
Dengan durasi yang tergolong singkat, yakni 75 menit, LM berhasil menyuguhkan pengalaman visual sekaligus keintiman karakter yang sederhana namun mengesankan bagi penonton.
The Casts
Donny Damara dan Raihaanun menjadi pusat perhatian sepanjang film. Sedikit mengingatkan peran Barry Prima di Realita, Cinta, dan Rock n’ Roll, Donny juga berhasil mencuri layar berkat perannya yang bertolak belakang dengan image-nya sehari-hari. Ia mampu membawakan peran Ipuy dengan sangat baik, tak hanya dari segi gesture namun juga karakternya secara keseluruhan. Bahkan ketika tanpa atribut yang ia kenakan sebagai waria, Donny masih mampu mempertahankan karakter Ipuy-nya dengan sangat meyakinkan. Tak heran jika Asian Film Awards mengganjarnya pengahargaan Aktor Asia Terbaik 2012, bahkan mengalahkan Andy Lau di film A Simple Life.
Raihaanun pun sanggup mengimbangi akting Donny. Sebagai gadis berjilbab yang lugu, yang tidak tahu harus melakukan apa menghadapi ayahnya yang ternyata seorang waria, gesture dan ekspresi wajahnya juara! Perkembangan yang terjadi pada karakter Cahaya di tiap adegan pun dapat diterjemahkan dengan sangat baik dan pas olehnya.
Technical
Berangkat sebagai film independen berbudget terbatas, harus dimaklumi ada banyak kendala teknis di sana-sini, terutama yang paling terasa adalah pergerakan kamera. Di hampir semua adegan, shaky-camera sangat terasa, begitu pula dengan panning yang kasar. Tidak sampai membuat pusing atau mengganggu sekali sih, tapi tidak bisa dipungkiri goyangnya kamera ini membuat LM terasa “kurang profesional”. Untung saja cerita, dialog, dan akting dari para aktornya cukup menutupi kekurangan tersebut, sehingga secara keseluruhan LM masih tampil elegan.
Pencahayaan tidak begitu menjadi kendala sepanjang durasi, mengingat settingnya yang hampir 90% malam hari hingga subuh. Tak ada gambar yang terasa terlalu gelap hingga mengurangi kejelasan adegan. Detail ketajaman gambar pun cukup terjaga dan memanjakan mata.
Sementara score yang disuguhkan menurut saya tergolong generik, kebanyakan hanya dentingan piano sederhana. Cukup lah jika hanya sekedar mengiringi adegan agar terasa lebih menyentuh, tetapi tidak terasa begitu istimewa. Justru ada beberapa adegan yang (lagi-lagi, menurut saya) terasa lebih efektif jika ditampilkan tanpa iringan score sama sekali.
The Essence
Seorang teman pernah berujar seperti ini : “Kehidupan memberikan ujian terlebih dahulu baru kita mendapatkan pelajarannya”. Sebuah ungkapan sederhana namun jika mau kita renungkan ada benarnya juga. Kita, di Indonesia, yang notabene “diwajibkan” untuk beragama dan menjadi religius, seringkali diajarkan untuk hidup sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing. (Ajaran) agama dijadikan semacam “manual book” untuk menjalani hidup sehari-hari. In life, it’s all about right or wrong. Do the right thing and avoid the wrong thing. That’s all. Padahal hidup tidak semudah benar atau salah, tetapi hidup juga lebih sederhana ketimbang aturan-aturan yang dituliskan di kitab suci.
Buat saya pribadi, pengalaman hidup kita sehari-hari adalah “ajaran” yang paling penting dan paling mempengaruhi kepribadian kita masing-masing. Lihat saja Ipuy yang walaupun menurut banyak orang adalah sampah masyarakat (terutama dari mata agama), ternyata mampu mengajarkan wisdom yang realistis kepada putrinya. Sementara Cahaya yang besar dalam bimbingan pesantren justru kebingungan dalam menghadapi hidupnya yang semakin keras seiring dengan fase kedewasaan yang mulai dimasukinya. Dua dunia yang berbeda dengan dua sudut pandang kehidupan yang berbeda pula.
Menjadi hal yang penting dalam hidup manusia bagaimana menempatkan ajaran agama sebagaimana mestinya. Ajaran agama memang penting sebagai basic, tapi dalam menghadapi problematika hidup sehari-hari, kita tidak bisa menerapkan ajaran agama mentah-mentah. Perlu pemikiran yang mendalam dalam menyelesaikan masalah. Agama tidak memberikan jawaban, hanya petunjuk. Jawabannya tentu ada di pribadi kita masing-masing setelah kita memikirkan dan menganalisanya.
Lihat data film ini di IMDB.
Situs resmi Lovely Man.

Diberdayakan oleh Blogger.