Paranoia
Upaya Membangun Thriller
di Atas Pondasi
Naskah Drama

Secara premise, Paranoia sebenarnya menawarkan sesuatu yang sangat menarik. Imajinasi saya segera melanglang-buana ke film-film thriller legendaris seperti Sleeping with the Enemy dan dipadukan dengan tema thriller yang populer di era 2010-an; home invasion. Pemilihan judul Paranoia pun membuat saya membayangkan thriller psikologis yang nyatanya seringkali hanya karena faktor ketakutan semata. Ketika menonton langsung, ternyata film juga sedikit ‘menggoda’ penonton lewat eksplorasi tubuh sintal Caitlin North Lewis dan gestur ketertarikan karakter Dina terhadap Raka. Meski ditampilkan secara tipis tapi kesan itu sulit untuk diabaikan begitu saja. Ini mengingatkan saya akan erotic thriller yang sempat populer di era ‘80-90-an. Ada begitu banyak alternatif imajinasi yang berkecamuk dalam benak saya yang sayangnya, tidak ada satu pun yang dimanfaatkan dalam produk akhir Paranoia.
Saya lantas mencoba mencari-cari di mana letak kelemanannya hinggan after-taste film terkesan ‘begitu saja’. Dari sisi penyutradaraan Riri yang baru sekali ini menggarap thriller sebenarnya tidak juga. Terbukti penggarapan adegan klimaks tergarap dengan intensitas dan momentum yang cukup baik. Begitu juga penampilan para aktor yang sebenarnya sudah memberikan performa terbaiknya, terutama sekali Nirina Zubir yang diberi porsi serta tantangan akting terbesar dan mampu menampilkan kebutuhan peran secara maksimal. Bahkan penampilan Caitlin North Lewis dengan porsi peran terbesarnya sejauh ini, masih memberikan performa yang layak di balik pengucapan dialog dengan aksen kebule-bulean yang masih belum seluwes Cinta Laura. Setidaknya masih memenuhi kebutuhan dan porsi perannya. Lalu di mana letak kelemahan Paranoia?
Setelah kembali meruntut plot yang digelar skenario Riri-Mira-Jujur Prananto, saya menyadari bahwa sebenarnya skenario lebih fokus di sisi drama dari cerita yang disampaikan. Skenario terlalu sibuk menyampaikan sisi psikologis sebagai sebab-akibat dari penokohan, terutama Dina dan Laura sebagai karakter utama, dan meruntutnya dengan kronologi yang linear ketimbang menggali lebih dalam potensi ‘rasa’ lebih yang memungkinkan dari modal cerita yang sudah dimiliki. Bayangkan jika kemungkinan-kemungkinan yang saya paparkan di paragraf sebelumnya benar-benar dimanifestasikan dalam film, mungkin Paranoia bisa menjadi sajian thriller yang tak hanya menjaga intensitas ketegangan sepanjang film tanpa mengorbankan perkembangan plot, tapi juga memberi layer lebih ke dalam karakter-karakter yang ada, terutama Dina dan Laura.
Potensi terfavorit saya adalah membawa Paranoia ke arah erotic thriller, memanfaatkan potensi aktor, terutama sensualitas Caitlin. Persaingan dan kecemburuan antara Dina dan Laura dalam merebut perhatian Raka tak hanya mampu memberi bumbu intensitas ketegangan tapi juga mampu menggali lebih dalam karakter keduanya. Bahkan potensi menghadirkan rekonsiliasi keduanya yang lebih intim dan mendalam bisa terasa lebih maksimal. Atau setidaknya yang paling simpel adalah mengembangkan plot kondisi psikologis Dina yang selalu dihantui rasa paranoid dan was-was meski sebenarnya tidak ada apa-apa. Setidaknya masih ada poin utama yang terfokus dari pengembangan plot.
Secara garis besar apa yang ditawarkan Paranoid sebenarnya tidak buruk, hanya saja tidak bisa memungkiri after-taste yang ‘begitu saja’ akibat keinginan membuat film thriller tapi dibangun di atas pondasi naskah drama serta melewatkan begitu banyak kemungkinan potensi yang bisa membuat film terasa lebih ‘menggigit’. Padahal Paranoia sudah punya modal teknis yang mumpuni. Mulai tata kamera Teoh Gay Hian (Opera Jawa, Soegija, Kucumbu Tubuh Indahku, The Science of Fictions) yang tahu betul bagaimana memaksimalkan ‘rasa’ terutama intensitas thriller ketika dibutuhkan sekaligus memanfaatkan ruang sempit dan terbatas secara maksimal tanpa kesan monoton, editing Ichwandiardono yang cukup cekatan menciptakan ilusi jumpscare yang berhasil sekaligus menjaga pace agar tidak semakin terjerumus ke dalam lembah kebosanan yang terlebih lagi, serta tata suara Aria Prayogi yang menciptakan bunyi-bunyian yang tak hanya terdengar nyata tapi juga punya impact tersendiri bagi keseluruhan feel film. Terakhir dan tak kalah pentingnya adalah musik score dari Aria Prayogi dan iringan beberapa track orisinil yang sebenarnya cukup memberikan rasa tersendiri meski pada akhirnya kesemuanya ini belum cukup mampu mengangkat after taste keseluruhan film. Sayang sekali.
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.