Eternals
Jatuh-Bangun
Dewa-Dewi Manusiawi

Fase keempat Marvel Cinematic Universe (MCU) yang seolah memulai babak baru dengan memperkenalkan judul-judul induk baru telah dibuka dengan gemilang lewat Shang-Chi: The Legend of the Ten Rings yang mendapat banjir pujian sekaligus pendapatan yang tergolong fantastis paska pandemi. Pertaruhan berikutnya adalah Eternals yang mengedepankan sosok-sosok abadi penjaga alam semesta dari makhluk buas berjuluk Deviant. Proyek installment yang tergolong ambisius ini dipercayakan kepada auteur berdarah Asia yang baru saja menerima penghargaan Best Director di Academy Awards 2020 lewat Nomadland, Chloé Zhao. Pemeran-pemeran utamanya tidak tanggung-tanggung, mulai A-list seperti Angelina Jolie, Salma Hayek, Gemma Chan, Kumail Nanjiani, Ma Dong-seok, Richard Madden, hingga nama-nama yang masih terdengar asing di telinga penonton umum tapi punya potensi besar, seperti Lia McHugh (Songbird), Brian Tyree Henry (If Beale Street Could Talk, The Woman in the Window, Godzilla vs. Kong, Vivo), Lauren Ridloff (Wonderstruck, Sound of Metal), dan Barry Keoghan (The Killing of a Sacred Deer, Dunkirk, The Green Knight). Resepsi kritikus dan CinemaScore di awal peluncuran tergolong terendah sepanjang sejarah MCU. Namun brand MCU terlalu kuat untuk tidak menyedot minat dan rasa penasaran penonton luas. 

Konon tahun 5000 Sebelum Masehi Dewa Celestial Arishem mengutus kaum Kekal dengan pesawat bernama Domo untuk menjaga bumi dari invasi monster berjuluk Deviants. Setelah berhasil menumpas Deviants terakhir di tahun 1521, kaum Kekal memilih untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri dan hidup tersebar di segala penjuru dunia berdampingan dengan manusia biasa. Di masa kini, dua di antara mereka, Sersi (Gemma Chan) dan Sprite (Lia McHugh) yang tinggal di London tiba-tiba diserang oleh monster Deviants. Tak lama kemudian muncul pula Ikaris (Richard Madden) yang punya sejarah asmara panjang dengan Sersi tapi tiba-tiba menghilang. Mereka akhirnya sepakat untuk mencari tim Kekal lama mereka yang tersebar; Ajak (Salma Hayek), Kingo (Kumail Nanjiani), Phastos (Brian Tyree Henry), Makkari (Lauren Ridloff), Druig (Barry Keoghan), Thena (Angelina Jolie), dan Gilgamesh (Ma Dong-seok), untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan sebisa mungkin kembali menumpas Deviants agar keamanan serta kedamaian Bumi tetap terjaga.


Sebagaimana installment perdana, tugas yang paling berat adalah memperkenalkan karakter-karakter dan konsep yang benar-benar baru (setidaknya menurut penonton umum). Apalagi Eternals punya karakter sentral yang tergolong banyak (10 orang!) dengan perkembangan plot yang terbentang selama ribuan tahun. Pemanfaatan flashback yang back-and-forth menjadi metode termudah tapi merangkainya jadi narasi yang terasa mulus membutuhkan skill tersendiri. Sayangnya Eternals lebih sering menyampaikan konsep rumit dan terbentang panjang dengan tell ketimbang show. Flashback yang back-and-forth sebenarnya diletakkan di titik-titik yang cukup relevan dan strategis sesuai kebutuhan plot tapi di satu titik cukup melelahkan. Untungnya secara keseluruhan dengan durasi yang membentang sepanjang 156 menit dan di balik konflik yang cukup serius tentang spiritual; antara mengikuti perintah Yang Maha Kuasa atau menggunakan kehendak bebas (freewill), laju penceritaan Eternals masih tergolong lancar dan cukup enjoyable untuk diikuti. Memang mustahil untuk memberikan porsi yang sama besarnya terhadap 10 karakter utama, tapi setidaknya ia punya alasan tepat memberikan porsi lebih banyak terhadap Sersi, Ikaris, dan Sprite, sedangkan ketujuh karakter lain setidaknya masih lebih dari cukup untuk membekas di benak penonton untuk jangka waktu yang lama meski porsinya tidak sebanyak ketiga karakter lini terdepan. Kelebihan lainnya, keputusan untuk mempercayakan beberapa karakter kepada aktor yang memang sudah punya popularitas di mata penonton umum membantu efek dramatis tanpa harus menghabiskan waktu yang banyak untuk melakukan character investment.


Beberapa dialog komedi masih cukup mampu memancing tawa kecil penonton di tengah nuansa keseluruhan film yang cukup dark dan serius. Setidaknya masih bisa dinikmati penonton dengan rentang usia yang luas tanpa harus terasa kelewat serius dan gelap sebagaimana yang pernah dilakukan Zack Snyder di beberapa installment DCEU (DC Extended Universe). Penanganan adegan-adegan aksinya pun cukup memanjakan panca indera dengan porsi yang juga pas.  Tentu ini tak terlepas dari peran sinematografi Ben Davis dan editing Dylan Tichenor serta Craig Wood yang piawai menanganinya.

Sayang, music score Ramin Djawadi tak hanya kurang memberikan kesan signatural bagi properti intelektual sebesar ini, tapi juga membosankan. Tak sedikit pun terasa kemegahan, padahal ia sudah punya visualisasi yang sebegitu epik dan konsep dewa-dewi. 


Dari jajaran cast yang ada, masing-masing cukup mampu menampilkan performa terbaik sesuai kebutuhan karakter. Hanya saja pemilihan Kumail Nanjiani agaknya agak miscast, kurang cukup meyakinkan untuk mengisi karakter seorang aktor Bollywood legendaris. Saya percaya Hrithik Roshan atau bahkan Tiger Shroff masih mampu mengisi peran Kingo dengan lebih meyakinkan tanpa perlu effort lebih seperti yang dilakukan Nanjiani.

Terlepas dari segala kelemahannya, secara keseluruhan kesan keren dan gigantic masih membuatnya layak dinikmati secara maksimal di teatrikal. Kekhawatiran saya terhadap penanganan Zhao untuk jenis film blockbuster seperti Eternals ini ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Ia masih mampu menjaga keseimbangan antara idealisme visualisasi dan penceritaan khasnya dengan selera penonton umum yang sekadar membutuhkan hiburan teatrikal yang memuaskan. 

NB: Jangan lewatkan mid-credit scene yang sedikit memberi gambaran lanjutan Eternals dan koneksi dengan fase ketiga MCU serta after-credit scene yang memberi bocoran korelasi Eternals dengan Blade.

Lihat data film ini di IMDb.


Diberdayakan oleh Blogger.