Losmen Bu Broto
Menggugat
Sosok Alfa,
Menemukan Keseimbangan
Tiap Peran

Di saat women empowerment, emansipasi wanita, anti-patriarki, dan isu-isu sejenisnya masih menjadi isu hangat yang terus dibahas, diperjuangkan, dan diperdebatkan di berbagai bidang di masyarakat kita bahkan hingga kini, sebenarnya seni bercerita kita sudah  menampilkan sosok alpha female yang populer sejak era '80-an. Adalah Losmen, sinetron yang sempat tayang di stasiun televisi nasional di tahun 1986-1989, yang memperkenalkan sosok Bu Broto sebagai alpha female dalam mengelola losmen sekaligus keluarganya. Disutradarai Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing, serial ini dibintangi nama-nama aktor papan atas seperti Mieke Widjaja, Mang Udel, Sutopo H.S., Mathias Muchus, Ida Leman, Eeng Saptahadi, dan Dewi Yull. 


Tahun 2020 Paragon Pictures (label baru produser Robert Ronny yang sebelumnya dikenal lewat Legacy Pictures - Kapan Kawin?, Critical Eleven, Kartini) bekerja sama dengan Ideosource yang sebelumnya lebih banyak terlibat dalam pendanaan produksi film, memutuskan untuk mengadaptasi serial tersebut menjadi film layar lebar dengan mempercayakan sutradara Ifa Isfansyah (Sang Penari, Pendekar Tongkat Emas) dan Eddie Cahyono (Cewek Saweran, Siti), serta menempatkan nama aktor-aktris papan atas saat ini; mulai Maudy Koesnaedi, Mathias Muchus (satu-satunya pemeran dari serialnya yang kini beralih peran sebagai Pak Broto), Putri Marino, Maudy Ayunda, Baskara Mahendra, Marthino Lio, didukung Thomi Baraqbah, Erick Estrada, Landung Simatupang, Danilla Riyadi, dan Marzuki Muhammad alias Kill the DJ. Dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 November 2021, Losmen Bu Broto diharapkan menjadi salah satu film Indonesia yang mampu mengundang kembali penonton ke bioskop paska pandemi COVID-19.


Losmen Bu Broto dikenal legendaris di Yogyakarta. Dikelola oleh seluruh anggota keluarga; Bu Broto (Maudy Koesnaedi) sebagai pemimpin, Pak Broto (Mathias Muchus) yang berperan semacam public relation bagi para tamu, putri sulung Mbak Pur (Putri Marino) yang mengelola dapur, putri kedua Jeng Sri (Maudy Ayunda) yang dipercayakan mengelola operasional, serta putra bungsu Mas Tarjo (Baskara Mahendra) yang kuliah sambil sesekali memandu wisata para tamu. 



Meski dari luar keluarga Bu Broto tampak kompak, sebagaimana hampir semua keluarga selalu ada saja konflik. Terutama Jeng Sri yang sebenarnya lebih ingin berkarir sebagai musisi daripada mengelola losmen. Di sisi lain ia juga merasa selalu menjadi kambing hitam Mbak Pur sejak kecil, padahal sebenarnya Mbak Pur sendiri lah yang iri karena Jeng Sri memang lebih cakap dalam pengelolaan dan selalu dibela Ibu mereka. Konflik memuncak ketika Bu Broto tidak menyetujui hubungan asmara Jeng Sri dengan seorang seniman bernama Jarot yang dianggap hidup seenaknya, tidak punya masa depan, dan tidak bisa bertanggung jawab. Keluarga Bu Broto terancam terpecah yang otomatis mengganggu stabilitas operasional losmen.


Sekilas dari permukaan terluarnya, konflik yang ditawarkan Losmen Bu Broto terkesan biasa saja, apalagi konflik klasik kekasih yang tidak direstui orang tua. Namun film mengajak penonton untuk melihat lebih mendalam akar dari kasus klasik ini, apa penyebabnya dan apa saja kemungkinan akibatnya. Ketika melihat kasusnya secara menyeluruh, tak heran jika ada banyak penonton yang merasa relate sehingga tidak sulit untuk berempati, bahkan tak mustahil menjadi bahan refleksi untuk melihat kasus yang terjadi pada diri masing-masing penonton.



Sebagaimana film-film produksi Robert Ronny sebelumnya seperti Kapan Kawin?, Critical Eleven,  Kartini, dan bahkan produksi berikutnya, BackstageLosmen Bu Broto juga mengetengahkan tema keluarga dan konflik yang muncul dari idealisme tiap anggota yang saling berbenturan. Kali ini yang disuguhkan sebuah gambaran yang awalnya terkesan keluarga ideal, bahkan menurut kacamata feminis yang kerap menyuarakan kesetaraan gender dan/atau anti patriarki. Namun seiring dengan berjalannya plot, penonton kemudian diajak untuk melihat konflik dari kacamata karakter lain yang berbeda. Bisa jadi awalnya dibuat kagum oleh sosok Bu Broto, tapi kemudian kacamata berpindah ke Mbak Pur dan Jeng Sri. Siapa pun pasti pernah 'menjadi' Mbak Pur dan/atau Jeng Sri sebagai anak atau sebagai saudara/i yang kerap dibanding-bandingkan. Film seolah ingin memberikan gambaran bahwa terlepas dari apa pun gender atau variabel-variabel lainnya, ketika memegang kuasa yang kuat dan berpengaruh, tetap saja rentan untuk hanya melihat konflik dari sisinya sendiri dan kemudian mengambil keputusan berdasarkan ego atau idealismenya sendiri, tanpa terlebih dahulu mencoba memahami penyebab dan konsekuensinya kemudian. Apakah akan menyelesaikan masalah atau justru memperburuk segalanya?


Tak hanya itu, film juga menunjukkan bahwa apa pun gendernya, sosok alpha juga punya sisi rapuh dan pernah merasa gagal. Malahan semakin besar dan kuat kuasanya, semakin rapuh pula terhadap kegagalan. Di tengah karya-karya yang hanya sekadar berusaha menuntut kesetaraan gender padahal yang ditampilkan sebenarnya juga glorifikasi yang tak sepenuhnya berimbang atau berteriak-teriak anti-patriarki, Losmen Bu Broto berani untuk menampilkan kesetaraan yang sesungguhnya sekaligus mengajak berefleksi untuk menemukan akar permasalahan yang sebenarnya, bukan hanya perkara gender semata. Ada keseimbangan dari sisi setiap pihak, baik orang tua maupun anak, antar saudara/i, aksi-konsekuensi, juga menyadari peran masing-masing dalam sistem (dalam film direpresentasikan lewat keluarga dan manajemen losmen). 



Sayang, ada satu potensi penting yang sebenarnya akan membuat film menemukan keseimbangan yang lebih maksimal. Di satu adegan sosok Mas Tarjo sempat digambarkan sebagai katalis atau penengah dari konflik yang terjadi, yang seolah menjadi hint akan peran Mas Tarjo dalam keluarga maupun manajemen losmen. Sayangnya justru ketika konflik utama mencapai klimaksnya, sosok Mas Tarjo seolah tak punya peran apa-apa. Entah sebuah potensi penting yang memang terlewatkan begitu saja atau sebenarnya sudah dikonsep demikian tapi kondisi di lapangan ketika produksi mengharuskan sebuah 'penyesuaian'.

Selain dari itu, Losmen Bu Broto nyaris tanpa cela berar. Semua kebutuhan plot tersaji pas dengan pace yang juga terjaga dengan sangat baik. Tak terlalu terburu-buru juga tak terasa terlalu lambat atau bertele-tele. Semuanya mengalir lancar, sederhana tapi bersahaja dan hangat. Emosional, tapi tanpa terasa berlebihan atau pun dibuat-buat. Selain pengarahan yang tepat, tentu tak terlepas dari penampilan para aktornya yang memang luar biasa. Kehadiran 5M (entah pemilihan main cast dengan persamaan inisial 'M' ini memang disengaja atau hanya kebetulan semata yang menarik); Maudy (Koesnaedi), Mathias (Muchus), (Putri) Marino, Maudy (Ayunda), dan Baskara (Mahendra), tampil sama baiknya. Terutama sekali Maudy Koesnaedi yang tak hanya berhasil melepas citra Zaenab yang melankoli menjadi alpha female yang tegas, tapi juga menunjukkan keseimbangan berupa kerapuhan dengan transformasi yang sangat natural dan manusiawi.


Pujian juga patut dialamatkan kepada Putri Marino berkat tiap gestur dan ekspresi wajah yang mampu berbicara melebihi dialog yang diucapkan. Sementara Mathias Muchus juga menampilkan personal dilemma yang tak kalah natural dan manusiawi ke dalam sosok Pak Broto. Terakhir, Maudy Ayunda yang biasanya mengisi peran kalem kali ini juga berhasil menghidupkan sosok Jeng Sri yang rebel tapi juga bisa rapuh. Singkatnya, kesemua 5S ini berhasil menghidupkan dua sisi karakter yang berlawanan secara natural dan manusiawi sehingga tak sulit bagi penonton untuk berempati dan bahkan menemukan diri mereka dalam salah satu karakter karena begitu realistisnya.



Losmen Bu Broto
 juga sama sekali tidak mengabaikan segi teknis. Mulai desain produksi Ong Hari Wahyu dan tata kostum Hagai Pakan yang jelas menonjol dalam memberi warna sekaligus karakter tersendiri ke dalam film, tata kamera Muhammad Firdaus yang mungkin terkesan serba sederhana tapi sebenarnya sangat efektif dalam bercerita maupun menyampaikan emosi adegan kepada penonton tanpa mengabaikan feel sinematik, editing Cesa David Luckmansyah dan Greg Araya yang berhasil menjaga pace sepanjang film ke dalam takaran yang serba pas dan feel yang maksimal, hingga musik skor dari trio Bembi Gusti, Tony Merle, Aghi Narottama yang memfusi aspek tradisional dan modern dengan nyawa dan emosi yang memperkuat tiap adegan. Tak ketinggalan lagu-lagu tema yang dibawakan sendiri oleh Maudy Ayunda dan Danilla Riyadi dengan lirik maupun melodi yang semakin menghanyutkan penonton dalam adegan-adegan yang disuguhkan, seperti Pulang, Semakin Jauh, dan favorit pribadi saya, Sayangnya.

Dengan berbagai keunggulan yang menunjukkan kematangan produksi dari semua departemen dan minornya kelemahan yang dimiliki, layak rasanya untuk menyematkan predikat salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Bahkan menurut selera saya pribadi malah merupakan film Indonesia terbaik tahun ini hingga nyaris bulan penghujung tahun ini. Tak hanya sayang untuk dilewatkan di layar lebar, tapi juga wajib untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga sebagai bahan refleksi bersama yang penting.


Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.


Diberdayakan oleh Blogger.