The Jose Flash Review
Stand by Me Doraemon

Siapapun yang pernah melewati era 90-an pasti mengenal tokoh-tokoh kartun Doraemon yang selalu menyambangi tiap Minggu pagi di salah satu TV swasta. Sebagai salah satu serial kartun yang paling lama tayang di TV, Doraemon jelas adalah ikon lintas generasi. Maka ketika muncul Stand by Me (SbM) yang disebut-sebut sebagai film layar lebar terakhir dari Doraemon, siapapun yang merasa punya kenangan atau sekedar tumbuh bersama Doraemon mau tidak tergelitik untuk menonton. Thanks to Jive! (group Blitz Megaplex) yang mau mengimpor SbM ke Indonesia, di tengah hampir mustahilnya importer film utama di Indonesia memasukkan film anime dan film-film yang berasal dari Jepang lainnya.

Angka 1 juta penonton di minggu ketiga jelas menorehkan sejarah baru di perbioskopan Indonesia. Apalagi dengan jumlah layar yang konon hanya sekitar 20-an layar. Sepanjang 2014 saja, perlu film dengan hype sebesar Transformers 4 dan Annabelle untuk bisa meraih 1 juta penonton. Itupun keduanya masing-masing ditayangkan di ratusan layar dan dalam waktu sebulan lebih.

Sebenarnya apa yang menjadikan SbM begitu istimewa? Harus diakui, tidak ada yang benar-benar baru di SbM selain format 3D dari yang biasanya hanya anime 2D tradisional. Ceritanya pun sebenarnya meringkas beberapa episode pertama dari serialnya. Tapi justru di situlah letak kekuatan SbM. Episode-episode yang dipilih untuk ditampilkan benar-benar yang terpenting dari keseluruhan episode yang ada. Perkenalan karakter-karakter utama, universe Doraemon, hubungan antar karakter, semuanya terangkum lengkap dan esensial di SbM.

Bagi yang tumbuh bersama Doraemon, SbM jelas menjadi mesin waktu yang mengingatkan kembali masa-masa indah bersama Doraemon sekaligus memahami lebih dalam konsep cerita Doraemon yang begitu penuh makna namun dengan kemasan pop yang begitu menarik. Tentu saja juga dengan tampilan 3D yang begitu memanjakan mata. Saya begitu menikmati perjalanan meruntut memori-memori indah bersama Doraemon dengan visualisasi modern. It was like a fantasy comes true. Universe Doraemon yang kita kenal selama ini benar-benar dihidupkan dengan sempurna lewat visualisasinya yang dimanfaatkan secara maksimal di beberapa adegan sinematis, seperti terbang menyusuri kota dengan baling-baling bambu. Sayang untuk melewatkannya di bioskop, apalagi dengan format 3D.


Bagi yang belum pernah mengenal Doraemon, SbM adalah ekstraksi yang esensial untuk memahami kisah Doraemon secara keseluruhan, yang mungkin akan membuat Anda tertarik mengikuti serialnya yang merupakan ekstensi dan perkembangan dari kisah utama ini. Selamat jatuh cinta (sekali lagi) dengan Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, dan semua karakter lainnya!

Lihat data film ini di IMDb.
Diberdayakan oleh Blogger.