3.5/5
Adventure
Blockbuster
Box Office
Comedy
Franchise
Hollywood
Pop-Corn Movie
Summer Movie
The Jose Movie Review
Thriller
Trilogy
The Jose Movie Review
The Jose Movie Review
The Hangover Part III
Overview
The Hangover (2009) adalah salah satu ikon generasi pada eranya. Ia
menjadi semacam tonggak template komedi yang kemudian cukup banyak
menginspirasi banyak film komedi Hollywood. Template dan formula yang sama
namun dikemas dengan variasi kreatif dihadirkan pula di The Hangover Part II yang mendapat tanggapan kurang menggembirakan
dari kritikus namun tetap menguntungkan secara box office. Maka tak heran jika
franchise ini pun digenapkan menjadi sebuah trilogi.
Sebenarnya penggunaan template
sama bukan menjadi masalah bagi film jenis ini. Kalau mau jujur, fans tentu
mengharapkan formula yang tetap dengan beberapa perkembangan kreatif, misalnya
lokasi kejadian yang berbeda. Tujuan utama penonton terus menyaksikan
lanjutannya adalah untuk menemukan pengalaman menonton serupa atau “lebih gila”
bukan? Lihat saja franchise American Pie (yang original, bukan yang
straight to video) yang tetap mampu mempertahankan kesuksesannya hingga empat
seri. Padahal jika mau dianalisis, kesemuanya punya template urutan kejadian
yang sama, hanya varian kejadiannya saja yang berbeda.
The Hangover Part III (H3) akhirnya mencoba untuk keluar cukup jauh
dari pakem template khasnya. Tidak ada pesta bujangan sebelum pernikahan, tidak
ada acara mabuk-mabukan yang menyebabkan lupa ingatan, dan tentu saja tidak ada
lagi penemuan foto-foto selaku saksi bisu aksi kegilaan wolfpack ini. Namun
tenang saja, semua original cast terutama anggota wolfpack (Alan, Phil, Stu,
dan Doug) dan tentu saja Mr. Chow yang sudah menjadi karakter-karakter iconic,
masih tetap ada dan rupanya menjadi satu-satunya senjata untuk memancing tawa
penonton (terutama Alan dan Mr. Chow yang dieksploitasi habis-habisan di sini).
Kedekatan karakter dengan penonton menjadi penyelamat seri ketiga franchise
karya Todd Phillips ini.
Jika menilik dari alur cerita, H3
masih menyuguhkan cerita yang seru untuk diikuti. Seperti yang saya tuliskan
sebagai headline, H3 menyuguhkan lebih banyak thrill, terutama karena
melibatkan mafia yang tak segan-segan menghabisi siapa saja. Namun sayang
justru minus di unsur kejutan dan kegilaan (dalam arti fun) selayaknya
seri-seri sebelumnya. Anyway, above all semuanya masih se-fucked-up seri-seri
sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih parah. Yes, semua dilakukan atas nama
mempertahankan image franchise yang “gila”, termasuk tak segan-segan
mengolok-olok (atau menantang?) PETA di beberapa bagian.
So, semua tergantung dari
ekspektasi dan persepsi masing-masing penonton (terutama fans). Kalau saya
sendiri H3 masih terasa H3 enjoyable. Ia masih berhasil membuat saya
terbahak-bahak di beberapa adegan sekaligus berteriak “what the fuck” di
adegan-adegan lain. Pendeknya, H3 masih sangat menghibur, bahkan teman saya
yang belum pernah menyaksikan dua seri sebelumnya menjadi penasaran. Oh iya sebagai
penutup, adegan yang “sangat Hangover” akhirnya berhasil menjawab pertanyaan
“mana maboknya?” sekaligus menutup trilogi dengan memuaskan. Another sequel?
Probably, but I doubt it. Enough is enough. Spin-off yang berbeda dengan
“semangat” yang serupa mungkin lebih baik.
The Casts
Original cast masih memberikan
performa yang stabil sejak seri pertamanya. Ed Helms (Stu) dan Bradley Cooper
(Phil) masih terlihat dungu sesuai harapan penggemar. Justin Bartha masih
mendapat porsi paling sedikit karena memang paling tidak mampu memancing tawa.
Zach Galfianakis (Alan) dan Ken Jeong (Mr. Chow) mendapatkan porsi lebih
banyak, bisa dibilang menjadi tumpuan sumber kelucuan, dan ternyata cukup mampu
mengemban tugasnya dengan baik.
Di lini karakter baru, Melissa
McCarthy yang angkat nama berkat Bridesmaids
tampil paling mengesankan. Selanjutya ada aktor senior John Goodman yang ikut
menyemarakkan “kekacauan” yang ada. Tak ketinggalan kembalinya Heather Graham
dan Mike Epps dari seri pertama yang mungkin tak memberi banyak kontribusi di
layar namun bagi fans setianya bisa menjadi semacam reuni manis.
Technical
Tidak ada yang terasa terlalu
menonjol di segi teknis. Semua pas sesuai fungsinya, seperti sinematografi,
desain produksi, hingga sound effect. Bahkan pemilihan track-track pengiringnya
tak lagi punya semangat yang sama dengan seri-seri sebelumnya. H3 lebih banyak
menggunakan track-track lawas seperti Mmmbop
by Hanson, My Life by Billy Joel, The Girl
from Ipanema, dan In the Air Tonight.
Sentuhan “gila”-nya mungkin hanya terwakili oleh Dark Fantasy by Kanye West dan Fuckin’
Problems.
The Essence
Even the born-bad needs a friend.
Enough said, eh Mr. Chow?
They who will enjoy this the most
- True fans of the franchise
- Fucked-up dark comedy lover