2.5/5
Based on Book
Box Office
Drama
Franchise
Romance
Teen
The Jose Movie Review
The Jose Movie Review - Breaking Dawn Part I

Twilight (so-called) Saga sebenarnya bukan prioritas dalam watch-list saya. Sebaliknya, saya malah ilfil setengah mati dengan premis-nya tepat setelah selesai menyelesaikan seri pertama. Menurut saya, tidak ada satu unsur pun yang membuat Twilight pantas menyandang embel-embel “saga”. Malahan, lebih cocok diangkat sebagai mini seri atau film TV saja. Cheesy dumb love story, with cheesy dialog, plain flat acting, and mediocre visual effects... hanya penampilan fisik (terutama aktor-aktor pria-nya) yang mampu membuat banyak gadis remaja yang tergila-gila dengan franchise ini.
Seri 4.1 ini pun sama sekali tidak ada dalam watch-list saya. Kalau saja tidak ada yang mentraktir, pasti bakal saya lewatkan begitu saja. Lagipula, sebagai seseorang yang gemar me-review film, saya juga harus melihat film yang “minor” di mata saya sehingga bisa menjelaskan mengapa saya tidak menyukainya.
Secara keseluruhan, sebagai sebuah produksi film, Breaking Dawn part 1 jauh di atas seri-seri pendahulunya. Saya sangat menikmati gambar-gambar indah yang disuguhkan sepanjang film, terutama terlihat jelas pada altar pernikahan Edward-Bella, bungalow pulau pribadi di Brazil tempat honeymoon, dan gambar favorit saya : mimpi Bella dimana Edward-Bella di pelaminan dengan tumpukan mayat di bawahnya. Divisi music juga worked very well. Score dan pilihan-pilihan tracknya tepat dan menyatu dengan adegan yang tersaji. Mungkin sengaja kali yah pakai track-track yang alternatif pop untuk merangkul audience di luar ababil. Te-O-Pe lah soundtracknya!
Pun, visual effectnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Transformasi para werewolf menjadi serigala tampak lebih detail dan terutama efek tubuh kurus Bella cukup mengesankan. Lebih penting lagi, no more shining skin from the vampires!
Namun sayang, keindahan Breaking Dawn part 1 hanya cukup sampai di situ. Ceritanya masih se-ababil seri-seri sebelumnya. Padahal Jacob Black sendiri pun pada satu adegan berujar, tidak cukup hanya “Aku cinta kamu”, “Kamu cinta aku” kepada Bella. Akhirnya ada satu karakter yang berpikir rasional tentang cinta. Sayangnya, Bella tetep kekeuh pada pendiriannya, apalagi Edward yang jelas tidak mau melepaskan Bella, satu-satunya wanita yang mau menerima dirinya apa adanya, setelah beratus-ratus tahun mencari. Ya iyalah... mana ada wanita yang dengan bodohnya menyerahkan dirinya jadi vampire, hidup selamanya (hidup selamanya itu boring dan menyiksa lho!) hanya karena cinta, selain Bella Swan? Maaf yah penonton lain kalau saya banyak tertawa sepanjang film :)
Oke, saya tutup mata deh dengan “kebodohan-kebodohan” plotnya. Yang pasti, di seri pamungkas ini (seharusnya) karakter-karakternya menjalani konsekuensi dari “kebodohan-kebodohan” tersebut dan menyelesaikannya di sini. Namun sayang hanya Jacob saja yang mengalami sedikit “pendewasaan” dalam berpikir dan bertindak. Setidaknya ia memperingatkan Bella, dan pada menjelang akhir, ia mengesampingkan egonya dengan mengurungkan niatnya untuk membunuh putri sulung Bella. Sementara Bella dan Edward sendiri? Mereka malah mulai bertengkar tuh, terutama karena Edward yang memikirkan keselamatan Bella (ketika ML maupun melahirkan), sementara Bella yah entah karena seorang masokis atau cinta buta-nya, serasa ngetheg aja. One point I agreed with Edward in a dialogue, “seharusnya bukan hanya keputusanmu, tapi keputusan KITA.” Juga, agak aneh melihat Bella yang kurang bisa membatasi sikapnya terhadap Jacob yang dia sendiri sudah tahu bagaimana perasaan Jacob kepada dia. Kalau yang satu ini mah dari seri pertama sampai sekarang masih belum berubah.
Secara alur, Breaking Dawn terasa terlalu bertele-tele. Durasi dua jam hanya diisi tiga hal : pernikahan, bulan madu (bercumbu melulu, lalu setelah Edward ogah menyakiti Bella ketika bercumbu, jadinya main catur melulu), dan melahirkan dengan masa kehamilan yang dipenuhi perdebatan dan hal-hal tidak penting lainnya. Buat yang berharap adegan aksi, siap-siap kecewa karena tak sampai sepuluh menit, itu pun skalanya biasa saja. Hanya kumpulan serigala melawan keluarga Cullen yang sedang berburu. Saya juga terganggu dengan adegan para serigala yang saling berkomunikasi dengan dubbing ala robot-robot Transformers. Menurut saya bakal lebih menarik jika tidak ada dubbing, hanya subtitle saja atau biarkan penonton menerka-nerka sendiri apa yang sedang diperbincangkan seperti dialog Caesar dengan seekor babon di The Rise of The Planet of The Apes. Untung saja semua itu digarap dengan cukup baik oleh sutradara Bill Condon yang pernah menangani film sekaliber Dreamgirls dan Kinsey, sehingga hasil akhirnya tidak terjerumus lebih buruk lagi.
Akting cast-cast utamanya tidak begitu menunjukkan peningkatan yang berarti sejak seri pertamanya. Ya begitu-begitu saja. Malah saya lebih suka karakter-karakter pendukung seperti Alice Cullen (Ashley Greene) atau Esme (Elizabeth Reaser) yang performance nya lebih mengesankan. Sayang sekali aktris muda favorit saya, Anna Kendrick (yang memerankan karakter Jessica Stanley, teman SMA Bella) tidak banyak diberi porsi. Ia hanya memberikan speech dengan joke garing di pernikahan Bella-Edward. Kesannya hanya sekedar penyambung dari seri sebelumnya.
Secara keseluruhan, terasa banget kalo part 1 ini sengaja dimulur-mulurin agar bisa memenuhi durasi dua jam, jadi masih ada “bahan” tersisa untuk part 2-nya. Saya sependapat dengan banyak orang, andaikata tidak dipotong menjadi dua bagian, mungkin alur bisa mengalir lebih cepat dan secara keseluruhan bisa lebih enak dinikmati. Soal fans novel yang mengatakan di layar sudah banyak yang dipotong dari novelnya, ya emang harusnya begitu. Film dan novel medium yang beda yang tidak mungkin dimasukkan semuanya. Lantas buat apa dibuat versi filmnya lagi kalau hanya mentah-mentah mengangkat persis dari novelnya? Filmnya harus bisa mengakomodasi penonton yang tidak membaca novelnya, namun tetap memiliki intisari yang sama dengan novelnya. Bukan begitu?